Washington, DC â Israel dan Lebanon sepakat untuk mengimplementasikan gencatan senjata. Namun, ada syarat utama yang bikin perjanjian ini rapuh: Hezbollah harus benar-benar berhenti menembak dan menarik pasukannya dari Lebanon selatan.
Kesepakatan ini lahir dari negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Washington, DC, pada Rabu (19/6). Masalahnya, Hezbollahâyang merupakan aktor utama di medan perangâtidak dilibatkan sama sekali dalam pembicaraan ini.
âIni bukan gencatan senjata baru, melainkan menegaskan kembali kesepakatan yang sudah ada sejak Mei lalu,â kata Manuel Rapalo, jurnalis Al Jazeera dari Washington. Ia menambahkan bahwa ketidakhadiran Hezbollah membuat kesepakatan ini seperti âkartu liarâ yang sulit diprediksi implementasinya.
Dalam perjanjian itu, kedua negara sepakat membentuk âzona percontohanâ di mana militer Lebanon akan mengambil alih kendali penuh wilayah tersebut dan mengusir semua aktor non-negaraâyang jelas merujuk pada Hezbollah. Ironisnya, beberapa jam setelah pengumuman, serangan lintas batas masih terjadi. Hezbollah mengaku menargetkan tentara Israel, sementara serangan balasan Israel menewaskan sedikitnya 10 orang di Lebanon selatan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa jika Beirut diserang habis-habisan, perang skala penuh akan pecah lagi. Ia juga mengakui komunikasi dengan AS masih terbuka, tapi âbelum ada kemajuan berartiâ dalam negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Dampak bagi Masyarakat: Warga sipil di perbatasan Israel-Lebanon masih hidup dalam ketidakpastian. Tanpa keterlibatan Hezbollah, gencatan senjata ini ibarat âperjanjian tanpa pemain kunciâ. Jika tidak ada jaminan keamanan nyata, pengungsi di kedua sisi tidak akan bisa pulang dengan aman.