NEW YORK NEW JERSEY - Tim nasional Prancis akan memulai perjuangan mereka di Grup I Piala Dunia 2026 dengan menghadapi Senegal di Stadion New York New Jersey, Selasa (16/6) pukul 19.00 WIB. Laga ini bukan sekadar pertandingan pembuka biasa, melainkan ajang balas dendat yang sudah ditunggu selama 24 tahun.
Pertemuan kedua tim terakhir kali terjadi pada Piala Dunia 2002 di Seoul. Saat itu, Senegal yang menjadi debutan sukses mempermalukan Prancis yang kala itu berstatus juara bertahan. Gol tunggal Papa Bouba Diop pada menit ke-30 menjadi mimpi buruk bagi Les Bleus dan menandai awal keterpurukan mereka di turnamen tersebut.
Kini, duel tersebut kembali terulang dengan cerita yang berbeda. Prancis datang sebagai salah satu tim terkuat dengan skuad bertabur bintang. Didier Deschamps, yang akan mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih setelah turnamen ini, berambisi meraih gelar ketiga untuk Prancis. Ia sudah pernah membawa pulang trofi sebagai kapten (1998) dan pelatih (2018).
Di sisi lain, Senegal tidak lagi dianggap sebagai tim kuda hitam. Mereka adalah juara Afrika dan memiliki 10 pemain yang lahir di Prancis. Hal ini membuat laga terasa seperti pertemuan keluarga besar yang penuh emosi. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang duduk di bangku cadangan saat kemenangan bersejarah 24 tahun lalu, kini siap memimpin 'Singa Teranga' untuk mengulang kejutan.
Dari segi taktik, Prancis unggul dalam hal pengalaman dan kualitas individu. Kylian Mbappe, yang mencetak hat-trick di final 2022, menjadi ancaman utama. Namun, performa Mbappe yang kurang konsisten di Real Madrid musim lalu bisa menjadi celah. Senegal akan mengandalkan kecepatan dan disiplin pertahanan untuk mematikan pergerakan Mbappe dan rekan-rekannya.
Analisis Dampak: Kemenangan bagi Senegal tidak hanya akan mengguncang grup ini, tetapi juga memberikan sinyal bahwa sepak bola Afrika siap bersaing di level tertinggi. Bagi Prancis, kekalahan di laga perdana bisa mengulang trauma 2002 dan mempersulit langkah mereka menuju babak selanjutnya. Laga ini juga menjadi ujian pertama bagi Deschamps untuk membuktikan bahwa timnya layak disebut sebagai favorit juara.