Warga Amerika Serikat tengah menantikan hasil Pemilu Sela yang digelar pada Selasa (waktu setempat). Pertarungan memperebutkan kendali atas Kongres ini menjadi salah satu yang paling ketat dalam beberapa tahun terakhir, dengan seluruh 435 kursi DPR dan 35 dari 100 kursi Senat dipertaruhkan. Partai Demokrat berupaya merebut kendali kedua kamar dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Meskipun tempat pemungutan suara mulai ditutup pada pukul 23:00 GMT, hasil akhir yang resmi diprediksi tidak akan langsung diketahui dalam waktu dekat. Proses penghitungan suara bisa memakan waktu berhari-hari, terutama jika selisih suara sangat tipis. Di beberapa negara bagian, seperti Alaska, proses tabulasi suara dengan sistem peringkat bahkan dijadwalkan baru berlangsung pada 18 November mendatang.
Pengamat politik menilai ketidakpastian ini bisa memicu kekhawatiran publik, terlebih lagi karena Presiden Trump sebelumnya sempat menyatakan keraguannya untuk menerima hasil pemilu jika ia menilai prosesnya tidak jujur. Namun, secara konstitusional, presiden tidak memiliki wewenang untuk membatalkan hasil pemilu kongres karena kewenangan tersebut sepenuhnya berada di tangan masing-masing negara bagian. Jika hasil akhirnya sangat ketat, proses penghitungan ulang (recount) atau gugatan hukum di pengadilan berpotensi semakin memperlambat pengumuman pemenang.