Washington, DC – Ribuan pendukung gerakan 'Make America Healthy Again' (MAHA) harus menelan pil pahit setelah pemerintah AS justru membela perusahaan raksasa Bayer di Mahkamah Agung. Aksi protes bertajuk 'People vs Poison' yang digelar pada 27 April lalu di depan Gedung Mahkamah Agung AS menjadi ajang unjuk kekuatan sekaligus kekecewaan para ibu-ibu aktivis yang dikenal sebagai 'MAHA Moms'.
Mereka menuntut keadilan bagi korban glyphosate, bahan aktif herbisida Roundup buatan Monsanto (anak perusahaan Bayer) yang diduga kuat menyebabkan kanker. Namun, alih-alih mendukung rakyat, pemerintahan Donald Trump justru memihak korporasi dalam sidang kasus Monsanto Company v Durnell. Keputusan ini dinilai sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye Trump yang menggaungkan isu kesehatan.
“Pemerintah yang melindungi korporasi dari rakyat bukanlah pelayan publik. Itu adalah pemerintahan yang dikuasai kepentingan bisnis!” tegas Kelly Ryerson, aktivis yang dikenal sebagai 'Glyphosate Girl' di media sosial. Ia hadir bersama tokoh MAHA lainnya seperti Zen Honeycutt (Moms Across America), Vani Hari (Food Babe), dan Alex Clark dari Turning Point USA.
Meski sekitar 40 persen warga Amerika mendukung gerakan MAHA menurut jajak pendapat Kaiser Family Foundation, para penggeraknya justru didominasi kalangan kulit putih, kaya, dan berpendidikan tinggi. Mereka umumnya berlatar belakang konsultan manajemen, perbankan, atau media sebelum beralih ke dunia kesehatan dan gaya hidup. Ironisnya, banyak dari mereka tidak memiliki latar belakang ilmiah atau kesehatan masyarakat yang memadai.
Kekalahan di Mahkamah Agung ini menjadi pukulan telak bagi gerakan yang sempat mendapat angin segar setelah Trump menunjuk Robert F. Kennedy Jr sebagai Menteri Kesehatan. Ke depannya, para aktivis MAHA harus memutar otak untuk tetap relevan di pemilu paruh waktu mendatang, terutama dalam mendorong kebijakan pengawasan bahan kimia dalam makanan.