Kondisi di Jalur Gaza masih jauh dari kata damai meski gencatan senjata sudah berjalan sejak Oktober lalu. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, serangan militer Israel kembali menelan korban jiwa. Sedikitnya empat orang warga Palestina tewas, termasuk seorang anak perempuan yang menjadi korban tembakan di dekat kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara.
Kekerasan juga terjadi di wilayah lain. Sebuah serangan udara di lingkungan Tal al-Hawa, Kota Gaza, menghancurkan sebuah kendaraan dan menewaskan satu orang serta melukai serius warga lainnya. Sementara itu, di Kota Khan Younis, Gaza selatan, seorang pria tewas saat sedang mengendarai sepeda. Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan satu korban jiwa tambahan akibat luka yang diderita dari serangan sebelumnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas sejak kesepakatan gencatan senjata Oktober tahun lalu telah mencapai 1.538 orang, dengan 5.498 lainnya luka-luka. Angka ini menunjukkan bahwa 'gencatan senjata' tidak sepenuhnya menghentikan pertumpahan darah.
Selain korban jiwa, militer Israel dilaporkan terus memperluas kendali wilayah di dalam Gaza. Sejak gencatan senjata dimulai, pasukan Israel terus menguasai lebih banyak lahan, bergerak dari utara ke tengah dan ke arah barat. Akibatnya, hampir dua pertiga wilayah Gaza kini berada di bawah kontrol militer Israel atau terkena pembatasan akses.
Dampaknya bagi masyarakat sangat fatal. Hampir dua juta orang hidup di wilayah yang semakin menyusut, dikelilingi ribuan ton puing reruntuhan. Warga tidak bisa kembali ke rumah mereka karena sebagian besar bangunan di area yang dikuasai Israel telah rata dengan tanah. Situasi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, di mana ruang hidup warga terus tergerus oleh perluasan zona militer.