Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di perairan Timur Tengah. Tiga pelaut asal India kehilangan nyawa setelah kapal tanker minyak MT Settebello diserang oleh militer Amerika Serikat (AS) di Teluk Oman, Rabu (12/6) lalu. Serangan ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk memberlakukan blokade terhadap pengiriman minyak yang terkait dengan Iran.
Korban adalah Patnala Suresh, seorang marine engineer yang sudah 15 tahun mengarungi lautan. Ia meninggalkan istri, Patnala Bhargavi, dan dua orang anak. Pasangan ini sebenarnya tengah menanti perayaan ulang tahun pernikahan ke-15 mereka bulan ini. Ironisnya, dalam percakapan terakhir, Suresh sempat menenangkan istrinya dan berjanji akan pulang dengan selamat. “Ada serangan di daerah ini dan beberapa orang tewas. Tapi jangan khawatir tentang aku. Aku akan pulang dengan selamat, dan kita akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan baik,” kenang Bhargavi.
Pihak militer AS mengklaim kapal tanker itu telah mengabaikan peringatan berulang kali dan membawa minyak Iran. Namun, manajemen kapal membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menyatakan kapal tidak memiliki hubungan dengan Iran dan tidak menerima peringatan apapun sebelum dibom. Dua puluh satu awak kapal lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Kematian para pelaut ini memicu duka mendalam di India, mulai dari kota pesisir Visakhapatnam hingga desa-desa terpencil. Pemerintah India melalui Menteri Perkapalan Sarbananda Sonowal menyatakan sedang berupaya memulangkan jenazah para korban. New Delhi juga telah memprotes keras tindakan Washington dengan memanggil diplomat senior AS dan mendesak dihentikannya serangan terhadap kapal dagang di kawasan tersebut.
Analis keamanan menilai insiden ini bisa memicu eskalasi konflik di jalur pelayaran strategis Teluk Oman. Bagi para pelaut dan keluarga mereka, tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa laut yang menjadi sumber nafkah kini berubah menjadi medan perang yang mematikan akibat ketegangan geopolitik AS-Iran.