Kuba murka. Kedutaan Besar Kuba di Kolombia menuding Amerika Serikat sedang melancarkan "pembajakan internasional" dan "blokade laut" di Laut Karibia. Tudingan keras ini muncul menyusul tindakan Washington yang secara masif memblokir pasokan minyak dari Venezuela ke Pulau Kuba, menyebabkan aliran energi vital tersebut kini nyaris terhenti.
Aksi AS ini bukan tanpa pemicu. Washington bertindak setelah insiden penyerangan militer dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini. Bagi Kuba, Venezuela adalah pemasok minyak utama selama puluhan tahun terakhir. Akibatnya, ekonomi Kuba yang sudah rapuh kini menghadapi ancaman serius, bahkan terancam ambruk.
Presiden AS Donald Trump dengan lantang menyatakan bahwa Kuba "siap jatuh" karena kehilangan pemasukan dari minyak Venezuela. Tak hanya itu, dilaporkan media Politico, pemerintahan Trump juga tengah mempertimbangkan blokade energi penuh terhadap Kuba. Jika ini terjadi, para pengamat khawatir bisa memicu krisis kemanusiaan parah di negara berpenduduk 11 juta jiwa tersebut.
Meski Kuba berupaya mencari sumber pasokan lain, termasuk dari Meksiko, ketergantungan pada minyak Venezuela sangatlah besar. Konflik ini adalah babak baru dalam ketegangan abadi AS-Kuba yang sudah berlangsung sejak revolusi komunis Fidel Castro pada tahun 1959. Dengan Strategi Keamanan Nasional AS yang kini fokus pada dominasi di Amerika Latin, dan Presiden Trump yang mengungkit Doktrin Monroe, tekanan terhadap Kuba diperkirakan akan semakin memanas. Masyarakat internasional menanti, apakah tekanan AS ini akan benar-benar menundukkan Kuba, atau justru memicu krisis kemanusiaan yang lebih besar.