Mogadishu - Suasana ibu kota Somalia, Mogadishu, mendadak mencekam pada Rabu (22/5) waktu setempat. Mantan Perdana Menteri Somalia, Hassan Ali Khaire, melaporkan bahwa ia dan rombongannya diserang oleh pasukan pemerintah saat tengah mempersiapkan aksi unjuk rasa damai yang dijadwalkan pada Kamis (23/5).
Dalam pernyataan di media sosial, Khaire dengan tegas menuding Presiden Hassan Sheikh Mohamud bertanggung jawab penuh atas serangan brutal tersebut. “Serangan ini dilancarkan oleh pasukan yang diperintahkan oleh presiden yang masa jabatannya sudah habis,” tulis Khaire.
Insiden ini terjadi di distrik Howl Wadaag, dekat kediaman Khaire. Seorang jurnalis AFP melaporkan terdengar rentetan tembakan senjata berat dan suara ledakan roket (RPG) yang berlangsung sekitar 15 menit. Warga setempat, Saleban Mahad, mengaku mendengar suara ledakan keras yang menggema ke seluruh lingkungan sekitar.
Ketegangan ini bermula dari keputusan kontroversial Presiden Mohamud untuk memperpanjang masa jabatannya selama satu tahun, setelah masa resminya berakhir pada 15 Mei lalu. Langkah tersebut ditolak mentah-mentah oleh oposisi dan para pemimpin daerah yang menilai tindakan itu sebagai upaya sentralisasi kekuasaan.
Menambah panas situasi, mantan Presiden Sharif Sheikh Ahmed juga ikut turun ke pusat kota untuk bergabung dalam protes. Ia mengecam serangan terhadap Khaire dan menyebut pemerintahan saat ini tidak lagi memiliki mandat sah. “Serangan ini tidak akan menghentikan demonstrasi warga yang menentang ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.
Analisis Dampak
Insiden penembakan terhadap tokoh senior seperti Khaire ini jelas mengirim sinyal bahaya. Ini bukan sekadar kericuhan politik biasa, melainkan indikasi bahwa negara tersebut berada di ambang konflik terbuka. Jika presiden yang habis masa jabatannya masih menggunakan kekuatan militer untuk membungkam lawan politik, maka legitimasi pemerintahannya di mata rakyat dan komunitas internasional akan runtuh total.
Ditambah lagi, wilayah Somalia yang sebagian besar dikuasai oleh kelompok militan Al-Shabaab membuat situasi semakin kompleks. Alih-alih fokus pada pemberantasan terorisme, energi pemerintah dan oposisi justru habis untuk saling serang. Negara-negara asing seperti AS dan Inggris yang selama ini menjadi penengah pun tampak kehabisan akal untuk mendamaikan kedua kubu. Jika krisis ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin Somalia akan kembali jatuh ke dalam perang saudara yang berkepanjangan.