Empat mantan perwira senior FDLR (Pasukan Demokratik untuk Pembebasan Rwanda) membongkar akar ideologi anti-Tutsi yang telah mengakar kuat. Mereka mengaku telah diajari kebencian terhadap etnis Tutsi jauh sebelum genosida 1994 terjadi. Dalam pandangan kelompok ini, Tutsi dianalogikan sebagai 'ular' yang harus dibunuh sebelum menyerang.
Ideologi ini bukan sekadar doktrin militer, melainkan hasil kristalisasi politik identitas yang dimulai sejak era kolonial Belgia. Kebijakan kartu identitas yang membedakan Hutu, Tutsi, dan Twa memperkeruh sekat sosial. Pasca-kemerdekaan, gelombang kekerasan dan pengungsian massal semakin memperdalam luka. Mantan perwira tersebut mengungkap bahwa jaringan ideologi ini terus dipelihara di pengasingan, menjadikan FDLR sebagai entitas yang bertahan lebih dari tiga dekade.
Hingga kini, keberadaan FDLR di Republik Demokratik Kongo (DRC) masih menjadi duri dalam daging hubungan bilateral dengan Rwanda. Bagi masyarakat luas, kisah ini menjadi pengingat kelam bagaimana narasi kebencian yang dilembagakan dapat bertahan lintas generasi dan memicu konflik berkepanjangan. Rehabilitasi di pusat demobilisasi Mutobo menjadi harapan baru bagi para mantan kombatan untuk kembali ke masyarakat, meski tantangan reintegrasi sosial tetap besar.