Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, terfokus pada meja perundingan nuklir di Jenewa, Swiss. Ini adalah putaran ketiga pembicaraan tidak langsung yang sangat krusial, digadang-gadang sebagai momen penentu: berhasil atau justru memicu potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Dunia menanti, akankah diplomasi mampu meredakan ancaman perang?
Delegasi dari kedua negara adidaya itu tengah berupaya keras menemukan titik temu dalam negosiasi yang bertujuan utama menghindari eskalasi militer. Pembicaraan ini kembali dihidupkan setelah AS di bawah pemerintahan sebelumnya menarik diri dari perjanjian nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada 2018, yang memicu sanksi ekonomi dan peningkatan aktivitas nuklir Iran. Ini bukan sekadar dialog rutin; sumber Al Jazeera, melalui koresponden Osama Bin Javaid, bahkan menyebut pertemuan kali ini sebagai 'make or break' – penentu apakah ketegangan berpuluh tahun ini bisa diatasi lewat jalur diplomatik, ataukah justru akan kembali ke jurang konfrontasi.
Tantangan utamanya adalah bagaimana AS dapat meyakinkan Iran untuk kembali membatasi program nuklirnya, sementara Iran menuntut pencabutan total sanksi yang mencekik ekonominya. Kegagalan dalam putaran negosiasi ini bisa berdampak serius. Selain memperparah krisis regional, stabilitas harga minyak global pun berpotensi terguncang. Komunitas internasional mendesak kedua belah pihak untuk berkompromi demi terciptanya perdamaian dan keamanan global.