Ratusan warga membanjiri pinggiran selatan Beirut, Sabtu (18/5), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tiga jurnalis Lebanon yang gugur. Ali Shoeib, Fatima Ftouni, dan saudaranya, kameraman Mohammed Ftouni, menjadi korban serangan Israel di Jezzine, Lebanon selatan. Tragedi ini langsung memicu kecaman keras dari otoritas Lebanon, yang menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan perang.
Kematian para pekerja media ini bukan hanya duka mendalam bagi keluarga dan rekan jurnalis, tetapi juga sorotan tajam terhadap bahaya yang dihadapi peliput di tengah konflik bersenjata. Insiden tragis di Jezzine ini menambah panjang daftar jurnalis yang tewas dalam konflik Israel-Lebanon, mengancam kebebasan pers dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi langsung dari medan perang. Analis menilai, serangan semacam ini tak hanya meningkatkan ketegangan di perbatasan, tetapi juga memicu seruan global untuk penyelidikan independen dan perlindungan yang lebih kuat bagi jurnalis di zona konflik. Lebanon selatan sendiri memang kerap menjadi titik panas konflik, dan insiden ini dikhawatirkan akan memperburuk situasi keamanan yang rapuh di kawasan tersebut.