Rencana ambisius senilai $800 miliar untuk rekonstruksi Ukraina, yang diberi nama "rencana kemakmuran", mendadak mandek. Kesepakatan yang seharusnya diteken di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss, ini harus ditunda menyusul ketegangan diplomatik yang memanas terkait upaya Presiden AS Donald Trump mengakuisisi Greenland. Ironisnya, penundaan ini terjadi di tengah persiapan pertemuan penting antara utusan AS, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan delegasi Ukraina.
Kabar penundaan ini mencuat setelah juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Rabu (waktu setempat) enggan berkomentar tentang perundingan di Davos. Namun, Peskov menegaskan pentingnya bagi Rusia untuk mendapat informasi terkait diskusi antara AS, para pemimpin Eropa, dan Ukraina.
Sebelumnya, pada Selasa, utusan khusus AS Steve Witkoff bersama menantu Trump, Jared Kushner, telah bertemu dengan utusan khusus Rusia Kirill Dmitriev di sela-sela forum selama lebih dari dua jam. Kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa Witkoff menyebut perundingan itu "sangat positif". Nantinya, Witkoff dan Kushner dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin dan delegasi Ukraina di Moskow pada Kamis (waktu setempat). Kremlin telah mengkonfirmasi jadwal pertemuan penting ini.
Namun, harapan untuk kesepakatan besar bagi Ukraina terganjal isu Greenland. Harian Financial Times (FT) melaporkan pada Rabu bahwa ketegangan dalam aliansi NATO, yang dipicu oleh keinginan Trump membeli Greenland, telah menggagalkan penandatanganan rencana rekonstruksi Ukraina. Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya kepada FT menyatakan, "Tidak ada yang punya niat untuk menggelar pertunjukan besar di sekitar kesepakatan dengan Trump saat ini." Meski begitu, rencana kemakmuran ini disebut tidak dibatalkan sepenuhnya dan masih bisa ditandatangani di kemudian hari.
Permasalahan Greenland memang telah mengguncang aliansi transatlantik. Trump berulang kali mengancam akan mengambil alih Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, dengan dalih alasan "keamanan".
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pun menyuarakan kekhawatiran. Ia memperingatkan para sekutu agar tidak membiarkan ketegangan soal Greenland mengalihkan fokus dari kebutuhan untuk membela Ukraina. "Fokus pada Ukraina harus menjadi prioritas nomor satu; ini krusial bagi keamanan Eropa dan AS," tegas Rutte dalam diskusi panel di Davos, Rabu. "Saya benar-benar khawatir kita kehilangan arah dan sementara itu Ukraina tidak akan memiliki cukup pencegat untuk mempertahankan diri."
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sendiri pada Selasa lalu menyatakan tidak akan bertolak ke Davos jika dokumen jaminan keamanan dengan AS dan "rencana kemakmuran" belum siap untuk ditandatangani. Ia memilih tetap di Kyiv untuk memantau langsung upaya penanganan darurat, mengingat serangan rudal dan drone Rusia terus menghantam sistem energi Ukraina. Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia memang mengintensifkan serangannya, menargetkan infrastruktur energi di kota-kota besar seperti Kyiv, Kharkiv, dan Dnipro. Serangan ini terjadi di tengah suhu di bawah nol, membuat ratusan ribu warga Ukraina menghadapi kesulitan ekstrem.