Lagi-lagi, kancah politik Peru dibuat geger. Presiden Jose Jeri harus lengser dari jabatannya setelah baru empat bulan menjabat. Keputusan drastis ini datang dari Kongres Peru, hanya beberapa minggu sebelum pemilihan umum, dan dipicu oleh serangkaian dugaan korupsi yang tak berkesudahan.
Pemecatan Jeri ini menambah daftar panjang para pemimpin Peru yang tumbang di tengah jalan akibat isu korupsi dan ketidakstabilan politik. Kongres negara Andes itu dengan cepat mengambil tindakan, menggulingkan Jeri atas berbagai tuduhan korupsi yang dilaporkan. Langkah ini diambil hanya hitungan minggu menjelang gelaran pemilihan umum, sebuah situasi yang jelas menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas pemerintahan dan masa depan demokrasi di Peru.
Kasus Jeri bukan yang pertama. Sejak 2016, Peru telah menyaksikan setidaknya tujuh presiden berganti, sebagian besar karena skandal korupsi dan tekanan politik. Kondisi ini menggambarkan pola kerapuhan politik yang mengkhawatirkan, di mana mandat rakyat seringkali berakhir prematur karena intrik kekuasaan dan praktik rasuah. Dampaknya? Tentu saja ketidakpastian bagi rakyat, yang terus menerus dihadapkan pada situasi politik yang bergejolak, menghambat pembangunan, dan merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara. Akankah siklus ini terus berulang?