Cuaca ekstrem tengah melanda kawasan Asia Timur dan Pasifik. Fenomena El Nino yang disebut-sebut sebagai yang terkuat dalam sejarah membuat laut menghangat dan memicu rangkaian badai dahsyat. Dampaknya luas: puluhan orang meninggal, bandara utama lumpuh, hingga panen dan infrastruktur hancur di sejumlah negara.
Salah satu contohnya adalah Topan Champi yang sempat membuat hampir seluruh Taiwan lumpuh. Meski badai sekuat kategori lima itu akhirnya melintas tanpa mendarat, anginnya yang mencapai 295 km/jam tetap memaksa ratusan penerbangan di Hong Kong, Taiwan, dan Jepang dibatalkan. Belum lagi badai lain seperti Topan Dolphin dan Saudel yang memicu banjir bandang serta memaksa ribuan warga mengungsi di China bagian timur.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa El Nino membuat suhu air laut Pasifik memanas. Ibarat orang yang sedang demam tinggi, laut ini menyimpan energi badai yang jauh lebih besar dari biasanya. Akibatnya, topan tidak hanya terbentuk lebih jauh ke timur, tetapi juga bertahan lebih lama dan menjadi lebih ganas saat menerjang daratan. Badan meteorologi Inggris bahkan memprediksi fenomena ini akan bertahan hingga awal tahun depan, sehingga masyarakat di kawasan rawan badai diminta tetap waspada.