Jakarta, Warkop Senayan — Tujuh bulan terakhir menjadi babak baru dalam hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Washington secara agresif masuk ke dalam politik dan ekonomi Venezuela, dimulai dengan aksi kontroversial menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu dan membawanya ke New York atas tuduhan perdagangan narkoba.
Kini, AS memegang kunci akses pendapatan minyak Venezuela, yang merupakan tulang punggung ekonomi negara tersebut. Dalam situasi ini, AS menjadi perantara dialog antara pemerintah Venezuela dan faksi oposisi. Menariknya, tokoh oposisi terkemuka Maria Corina Machado justru disingkirkan dari meja perundingan, sementara Delcy Rodriquez muncul sebagai pemimpin interim yang didukung AS.
Pertanyaannya, apa sebenarnya tujuan AS? Apakah ini upaya tulus untuk mendemokratisasi Venezuela, atau sekadar strategi untuk menguasai cadangan minyak terbesar di dunia? Diskusi pun melibatkan analis politik ekonomi Elias Ferrer, mantan perwakilan resmi oposisi Juan Guaido, Vanessa Neumann, serta mantan Duta Besar AS untuk Venezuela, Charles Shapiro.
Para pengamat menilai langkah AS ini berisiko memicu ketidakstabilan baru. Sebelumnya, upaya serupa melalui sanksi ekonomi justru memperburuk krisis kemanusiaan di Venezuela, dengan jutaan warga mengungsi ke negara tetangga. Negosiasi yang hanya melibatkan faksi tertentu dikhawatirkan tidak akan menyelesaikan akar masalah, melainkan hanya memperkuat kepentingan asing di kawasan yang kaya sumber daya alam.