Jakarta - Tim nasional Republik Demokratik Kongo (DRC) akhirnya tiba di Amerika Serikat untuk berlaga di Piala Dunia, setelah menjalani karantina paksa selama 21 hari di Eropa. Kisruh ini bermula dari kekhawatiran otoritas AS terhadap wabah Ebola yang tengah merebak di negara asal DRC.
Otoritas AS menolak menerima kedatangan langsung skuad DRC dari negara yang terinfeksi Ebola. Mereka memaksa tim asuhan pelatih Sebastien Desabre untuk menjalani masa karantina di Belgia. Jika tidak, mereka diancam tidak akan diizinkan masuk ke AS untuk turnamen bergengsi tersebut. Skuad DRC baru bisa terbang dari Paris menuju AS pada Kamis lalu setelah masa karantina usai.
Pelatih Desabre mengaku timnya beradaptasi dengan baik di tengah situasi sulit ini. Ia berharap penampilan timnya di Piala Dunia bisa menjadi hiburan bagi rakyat Kongo yang tengah berjuang melawan wabah mematikan. “Sudah lama rakyat tidak melihat tim ini di Piala Dunia. Kami mendapat kehormatan untuk lolos. Sekarang, terserah kami untuk tampil baik,” ujar Desabre.
DRC lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974, saat negara itu masih bernama Zaire. Persiapan mereka sempat kacau karena rencana laga uji coba melawan Chile di Spanyol batal akibat ketakutan akan penyebaran virus. Tim akhirnya memusatkan latihan di Belgia.
Analisis Dampak: Kasus ini menyoroti betapa ketatnya protokol kesehatan internasional di ajang olahraga global. Bagi DRC, ini bukan sekadar masalah logistik, tetapi juga pukulan psikologis. Tim kehilangan kesempatan beradaptasi dengan iklim dan waktu di AS, serta kehilangan momentum pertandingan uji coba. Di sisi lain, keputusan AS ini menjadi preseden bagi negara-negara lain yang mungkin menerapkan kebijakan serupa di masa depan jika ada wabah, berpotensi menghambat partisipasi atlet dari negara terdampak.
DRC akan bermarkas di Houston selama turnamen. Mereka akan memulai petualangan di Grup K melawan Portugal pada 17 Juni, lalu menghadapi Kolombia di Guadalajara (23 Juni), dan Uzbekistan di Atlanta (28 Juni).