Jakarta - Kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan tengah masa (midterm) Amerika Serikat memicu perdebatan sengit di internal partai. Wakil Presiden JD Vance secara terbuka menyalahkan perang melawan Iran sebagai penyebab utama kekalahan tersebut, Rabu (5/11).
Dalam unggahannya di platform X, Vance menegaskan bahwa Presiden Donald Trump sendiri telah mengakui hal itu. "Alasan kita kalah adalah perang. Presiden sendiri sudah mengatakan itu tadi malam," tulis Vance, dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat perpecahan di kubu Republik. Senator Ted Cruz, yang dikenal sebagai pendukung garis keras anti-Iran, juga berbalik mengkritik jalannya konflik. Menurutnya, operasi militer tersebut seharusnya bersifat singkat dan tegas, bukan berkepanjangan seperti sekarang.
Meski begitu, Trump masih bersikukuh dengan keputusannya. Ia menyatakan tidak menyesal meluncurkan serangan bersama Israel pada Februari lalu. Trump beralasan perang itu perlu untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, meski ia mengakui bahwa lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pemicu kemarahan publik.
Dampak Global dan Domestik
Kekalahan elektoral ini tidak lepas dari dampak ekonomi yang ditimbulkan. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik telah memicu krisis bahan bakar global. Data menunjukkan biaya yang ditanggung pembayar pajak AS mencapai sekitar 47 miliar dolar AS (sekitar Rp 740 triliun).
Analis politik menilai situasi ini sebagai pukulan telak bagi dominasi Trump. Dengan Demokrat yang kini menguasai Kongres, tekanan untuk mengevaluasi ulang kebijakan perang Iran diprediksi akan semakin besar. Vance, yang digadang-gadang menjadi calon presiden 2028, tampak mulai memposisikan diri dengan menanyakan apakah harga politik dari perang ini sebanding dengan hasilnya.