BUDAPEST - Viktor Orban kembali terpilih sebagai Ketua Partai Fidesz untuk masa jabatan satu tahun ke depan, meskipun partai yang pro-Rusia itu mengalami kekalahan telak dalam pemilu April lalu. Dari 737 delegasi yang hadir dalam kongres partai, 729 di antaranya memilih Orban yang maju tanpa lawan, demikian laporan kantor berita nasional MTI, Sabtu (14/6).
Dalam pidatonya sebelum pemungutan suara, Orban yang berusia 62 tahun menegaskan dirinya tidak akan menyerah. "Saya tidak menyerah, saya tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah menyerah," ujarnya di hadapan para delegasi. Ia juga mengakui bertanggung jawab penuh atas kekalahan partainya dalam pemilu.
Kekalahan Fidesz dari partai sentris kanan pro-Barat, Tisya, pimpinan Peter Magyar, menjadi pukulan telak. Tisya berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga kursi parlemen dalam pemilu 12 April lalu. Kemenangan ini cukup untuk membatalkan perubahan konstitusi yang diperkenalkan Orban selama berkuasa yang dinilai mengikis independensi peradilan, media, universitas, dan institusi lainnya.
Sejak berkuasa pada Mei lalu, Magyar berjanji akan mengamendemen konstitusi untuk menyingkirkan Presiden Tamas Sulyok dan pejabat lain yang diangkat oleh Orban. Pemerintahan baru juga sepakat mencabut veto Hungaria terhadap keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, sehingga proses aksesi dapat dilanjutkan pekan depan dengan pembicaraan di Luksemburg.
Sebagai imbalannya, UE mengumumkan akan mencairkan 16,4 miliar euro (Rp 290 triliun) dari total 18 miliar euro (Rp 318 triliun) yang sebelumnya dibekukan karena kemunduran demokrasi, korupsi, dan perlakuan terhadap isu LGBTQ+ di bawah kepemimpinan Orban.
Survei terbaru menunjukkan elektabilitas Fidesz terus merosot. Lembaga Publicus Institute mencatat dukungan terhadap Tisya naik menjadi 55 persen, sementara Fidesz terjun bebas ke angka 17 persen dari sebelumnya 39 persen pada pemilu.
Analisis: Keputusan Orban untuk tetap bertahan menunjukkan bahwa ia masih memiliki kendali kuat atas mesin partai meskipun popularitasnya runtuh. Namun, dengan kekuasaan parlemen yang kini dimiliki Tisya, Orban menghadapi risiko besar berupa pembongkaran sistem 'illiberal' yang ia bangun selama 16 tahun. Jika Magyar konsisten, Hungaria bisa mengalami perubahan haluan politik yang dramatis dari sekutu Rusia menjadi kembali ke pangkuan Uni Eropa.