Pulau Kuba akhirnya kembali hidup setelah lebih dari 29 jam merasakan gelap gulita akibat pemadaman listrik nasional. Sekitar 10 juta penduduknya sempat terputus dari pasokan listrik, memicu kekhawatiran besar di tengah krisis bahan bakar yang kian parah. Namun, apakah pemulihan ini pertanda berakhirnya penderitaan, atau justru awal dari masalah baru yang lebih rumit?
Kuba berhasil menyambungkan kembali jaringan listrik nasionalnya dan mengoperasikan pembangkit listrik bertenaga minyak terbesar mereka, Antonio Guiteras, pada Selasa malam waktu setempat. Meskipun listrik sudah kembali mengalir, pejabat energi setempat memberi peringatan: pasokan listrik kemungkinan besar akan tetap terbatas. Alasannya, daya yang dihasilkan masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak.
Krisis ini bukan sekadar insiden biasa. Banyak pihak menuding kebijakan Amerika Serikat (AS) yang agresif sebagai biang keroknya. Washington terus memperketat sanksi, menghambat pasokan bahan bakar ke Kuba, dan bahkan mengancam negara-negara lain yang berani mengirimkan minyak ke pulau tersebut. Presiden AS Donald Trump pun sempat melontarkan pernyataan keras, mengisyaratkan bahwa ia bisa melakukan apa saja terhadap Kuba. Ketegangan diplomatik antara kedua negara pun memanas dengan cepat.
AS, melalui juru bicara Departemen Luar Negeri, langsung menuding pemerintah Kuba yang tidak kompeten sebagai penyebab runtuhnya jaringan listrik. Namun, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel tak tinggal diam. Ia balik menyerang Washington, mengkritik ancaman publik yang hampir setiap hari dilancarkan. Menurut Diaz-Canel, AS berencana untuk mengambil alih negara, sumber daya, properti, dan bahkan ekonomi Kuba demi memaksa mereka menyerah. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Kuba terkait penyebab pasti kegagalan jaringan listrik yang menjadi yang pertama sejak AS memutus pasokan minyak dari Venezuela.
Faktanya, pemadaman total ini hanyalah puncak gunung es dari krisis yang sudah lama mendera. Sebelum insiden terbaru, sebagian besar warga Kuba, termasuk di ibu kota Havana, sudah terbiasa dengan pemadaman listrik hingga 16 jam atau lebih setiap hari. Infrastruktur pembangkit listrik yang sudah tua dan kelangkaan bahan bakar menjadi kombinasi mematikan. Dampaknya ke kehidupan sehari-hari sangat nyata: pasokan makanan dan air terganggu, aktivitas mandek, dan tingkat stres masyarakat melonjak. Situasi diperparah dengan data pelacakan kapal yang menunjukkan Kuba hanya menerima dua kapal kecil pengangkut minyak tahun ini. Cuaca buruk berupa front dingin yang mendekati pulau juga sempat mengurangi efektivitas pembangkit listrik tenaga surya yang menyumbang sepertiga pasokan di siang hari.
Di tengah panasnya situasi, ada secercah harapan: AS dan Kuba dikabarkan telah membuka pembicaraan untuk meredakan krisis yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling akut sejak tahun 1959 ini. Meski begitu, jalan menuju stabilitas pasokan energi dan ketenangan politik di Kuba masih panjang dan penuh tantangan. Masyarakat masih harus bersiap menghadapi potensi pemadaman listrik berkelanjutan dan ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.