GOMA SETAHUN PASCA-PERANG: BANK TUTUP, WARGA MERANA BIKIN PILU! - Berita Dunia
← Kembali

GOMA SETAHUN PASCA-PERANG: BANK TUTUP, WARGA MERANA BIKIN PILU!

Foto Berita

Goma, Republik Demokratik Kongo – Bayangkan hidup tanpa akses ke bank selama setahun penuh. Itulah realita pahit yang kini dihadapi warga Goma. Sejak pemberontak M23 menguasai kota strategis ini pada 27 Januari 2025 silam, seluruh bank di Goma langsung menghentikan operasional. Mesin ATM pun mati total. Kini, setahun setelah peristiwa kelam itu, layanan finansial vital ini tak kunjung pulih, menyebabkan sengsara yang berkepanjangan bagi penduduk.

Dampaknya langsung terasa dan menyengsarakan. Ambil contoh Sheilla Zawadi, seorang ibu tiga anak yang menjalankan apotek di pusat kota. Ia kehilangan kartu bank Access Bank-nya sesaat sebelum kota itu jatuh, dan tidak punya aplikasi mobile banking. Solusi satu-satunya? Menyeberang perbatasan ke Rwanda, ke kota Gisenyi, demi mencari ATM.

Namun, jalan keluar ini bukan tanpa harga. Untuk menarik uang setara 100 dolar AS, Sheilla harus membayar biaya hingga 15 dolar AS. Parahnya, uang yang ditarik hanya dalam Franc Rwanda. Setelah itu, ia harus menukarkannya kembali ke Dolar AS, lalu ke Franc Kongo melalui pedagang informal di perbatasan. Setiap langkah penukaran ini berarti kerugian nilai uang. "Lebih mahal menarik uang di negara lain. Andaikan bank-bank buka lagi," keluhnya pilu.

Situasi pelik ini tak hanya dialami Sheilla. Puluhan, bahkan ratusan warga Goma lainnya, setiap hari melakukan "ritual" yang sama: berdesakan di perbatasan, hanya untuk mendapatkan uang mereka sendiri. Ironisnya, di tengah kondisi keamanan yang disebut sudah "normal", bank-bank itu tak kunjung beroperasi.

Pemerintah Kinshasa dan otoritas M23 yang kini mengelola Goma saling lempar tanggung jawab. Sementara pihak bank sendiri bungkam, sesekali hanya merujuk pada "penutupan sementara" karena "situasi keamanan". Ketiadaan layanan perbankan yang fundamental ini menjadi penghambat utama pemulihan ekonomi Goma. Konflik politik yang tak kunjung usai, ditambah minimnya akuntabilitas dari pihak-pihak terkait, membuat warga menjadi korban utama. Roda perekonomian lokal mandek, menghambat transaksi, investasi, dan pembangunan. Jika kondisi ini terus berlanjut, pemulihan Goma dari bayang-bayang konflik akan semakin jauh dari harapan, memperpanjang penderitaan ekonomi warganya yang tak bersalah.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook