Ashton-in-Makerfield, Inggris – Kota kecil yang sebelumnya tidak dikenal kini menjadi pusat perhatian politik Inggris. Andy Burnham, yang dijuluki 'Raja Utara', berhasil memenangkan pemilu sela (by-election) dengan telak di daerah pemilihan Ashton-in-Makerfield pada Kamis lalu.
Kemenangan ini langsung memicu spekulasi besar: Burnham siap menantang Perdana Menteri Keir Starmer dalam pemilihan ketua Partai Buruh. Dalam pidato kemenangannya, Burnham menegaskan bahwa rakyat sudah muak dengan politik pusat yang hanya menguntungkan London. 'Mereka memilih perubahan. Mereka ingin kekuasaan kembali ke Utara dan daerah-daerah yang selama ini dilupakan Westminster,' ujarnya.
Bagi Starmer, ini adalah sinyal bahaya. Meskipun memenangkan pemilu umum 2024 dengan gemilang, mayoritas kursi yang diraihnya tipis-tipis. Kini, popularitasnya jatuh bebas. Jajak pendapat menyebutnya sebagai perdana menteri paling tidak populer dalam sejarah Inggris modern. Ditambah lagi, tekanan dari partai sayap kanan Reform UK yang dipimpin Nigel Farage terus menggerogoti basis suara Buruh.
Suasana di Ashton-in-Makerfield sendiri sempat kacau balau selama kampanye. Warga setempat, seperti Sue Hailwood yang bekerja di toko amal, mengaku kelelahan. 'Ini benar-benar mengerikan,' katanya. Pemilik toko vinyl, Peter Thompson, bahkan melihat sendiri bagaimana media asing dari Amerika, Prancis, Swedia, hingga Denmark berdatangan hanya untuk meliput pemilu kecil ini.
Namun, jalan Burnham menuju kursi pimpinan partai tidak mudah. Aturan Partai Buruh mewajibkan setiap penantang untuk mendapatkan dukungan dari 20 persen anggota parlemen partai, atau sekitar 81 orang. Ia juga perlu restu dari cabang partai lokal dan serikat buruh. Jika Starmer tetap ngotot bertahan, proses pemilihan bisa berlarut-larut.
Analisis Dampak: Kemenangan gemilang Burnham ini menunjukkan bahwa basis akar rumput Partai Buruh sudah mulai meninggalkan Starmer. Jika Burnham berhasil menggantikan Starmer, kebijakan ekonomi Inggris bisa berubah drastis. Burnham dikenal sebagai tokoh yang lebih populis dan pro-serikat buruh, berbeda dengan Starmer yang cenderung moderat. Ini juga bisa memicu perpecahan internal partai jika tuntutan pergantian pimpinan tidak segera direspons.