Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) baru-baru ini menggelar pertemuan darurat di Manama, Bahrain, untuk merespons serangan berulang dari kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi. Dalam pernyataan resminya, GCC tidak hanya mengecam keras aksi tersebut, tetapi juga menegaskan bahwa serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap seluruh aliansi. Mereka mengaktifkan perjanjian pertahanan bersama dan mendukung penuh hak Saudi untuk melindungi wilayahnya.
Eskalasi militer ini terlihat nyata dengan laporan koalisi pimpinan Saudi yang berhasil menembak jatuh dua drone di dekat Riyadh dan Provinsi Timur pada Minggu dini hari. Sayangnya, dampak dari konflik berkepanjangan ini sangat memilukan bagi warga sipil. Data terbaru dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 233.000 orang terpaksa mengungsi akibat pertempuran yang semakin meluas, terutama di provinsi Taiz yang jalur pasokannya terputus.
Selain masalah kemanusiaan, GCC juga mendesak masyarakat internasional untuk memperketat embargo senjata PBB dan memasukkan Houthi ke dalam daftar organisasi teroris. Di sisi lain, pemerintah Yaman yang diakui internasional terus mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas terhadap serangan Houthi di fasilitas negara. Situasi ini diperumit dengan adanya pertemuan antara Wakil Presiden UAE dan Menteri Pertahanan Saudi di Abu Dhabi untuk membahas keamanan regional, sementara bentrokan bersenjata masih terus terjadi di lapangan dengan korban jiwa yang berjatuhan di kedua belah pihak.