Washington, DC – Federal Bureau of Investigation (FBI) berhasil menggagalkan rencana serangan teror yang menyasar acara Ultimate Fighting Championship (UFC) di halaman Gedung Putih pada Minggu lalu. Lima orang telah ditahan dan total 23 orang diduga terlibat dalam plot tersebut.
Direktur FBI Kash Patel mengungkapkan pihaknya pertama kali mengetahui ancaman ini pada 10 Juni, beberapa hari sebelum acara seni bela diri campuran yang digelar untuk merayakan ulang tahun Presiden Donald Trump dan peringatan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan AS. 'Berkat tindakan cepat FBI, mitra kami, dan Departemen Kehakiman dalam operasi multi-negara bagian, beberapa individu kini diamankan dan rencana serangan berhasil dihentikan,' tulis Patel di akun X miliknya.
Menurut laporan Fox News Digital yang dikutip Patel, plot tersebut melibatkan penggunaan drone yang diisi bahan peledak untuk menyerang gedung-gedung di sekitar lokasi acara. Rencana tersebut dilaporkan memiliki 'gelombang kedua' yang bertujuan menerobos gerbang Gedung Putih saat acara berlangsung. Para pelaku direncanakan akan berkumpul di Virginia pada 12-13 Juni berdasarkan data dari aplikasi pesan Signal yang disita aparat.
Lima tersangka ditangkap dari negara bagian Ohio, Missouri, dan California. Dinas Rahasia AS (Secret Service) menyatakan mereka bekerja keras untuk mengidentifikasi dan menuntut para pelaku. Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance menekankan pentingnya membongkar jaringan pendanaan di balik plot ini. '23 orang tidak bisa sampai pada titik akan melakukan teror massal di Washington tanpa pendanaan dan koordinasi yang serius. Ini bukan ulah segelintir orang, ini plot terorisme yang terorganisir,' tegas Vance dalam wawancara dengan Fox News.
Dampak dan Analisis: Kejadian ini memicu kekhawatiran baru tentang keamanan di pusat kekuasaan AS, terutama terkait ancaman drone yang semakin canggih. Meskipun berhasil digagalkan, fakta bahwa 23 orang bisa berkonspirasi selama berhari-hari menunjukkan adanya celah dalam sistem intelijen. Ini juga menjadi pengingat bahwa acara-acara besar yang melibatkan tokoh negara tetap menjadi target utama terorisme. Presiden Trump sendiri mengaku tidak mengetahui rencana penyerangan tersebut saat berada di KTT G7 di Prancis.