Teheran melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah pada Jumat pagi, sebagai respons atas gelombang serangan udara Amerika Serikat yang terus meningkat. Iran menargetkan Bahrain, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Yordania, dan Suriah dengan rudal serta drone.
Serangan ini terjadi di malam keenam kampanye militer AS terhadap Iran. Di sisi lain, AS memperluas serangan udaranya dengan menyasar infrastruktur sipil di selatan Iran, termasuk jaringan telekomunikasi, sistem kereta api, dan Jembatan Bandar-e Khamir di Provinsi Hormozgan. Media lokal melaporkan setidaknya tujuh orang tewas dalam serangan tersebut.
Teheran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di negara-negara tetangga. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim berhasil menghancurkan radar kontrol udara AS di wilayah Ghanim utara dan radar pengawasan maritim di Selat Hormuz. Mereka juga menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, menghancurkan radar pertahanan rudal, gudang senjata, dan dua peluncur rudal HIMARS.
Di Qatar, ledakan keras terdengar di ibu kota Doha pada Jumat pagi. Sirine peringatan berbunyi dan warga menerima peringatan keamanan di ponsel mereka. Kementerian Dalam Negeri Qatar mengonfirmasi seorang anak terluka akibat pecahan peluru dan kini menjalani perawatan medis.
Sementara itu, di Irak utara, pasukan koalisi pimpinan AS berhasil menembak jatuh delapan drone eksplosif di atas Kota Erbil. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Di Yordania, sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh tiga rudal Iran yang melintasi wilayah udaranya.
Analisis Dampak: Eskalasi ini mengancam stabilitas kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Selat Hormuz, yang dikuasai IRGC, menjadi titik kritis karena dapat mengganggu pasokan energi global. Konflik ini juga berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam perang regional yang lebih luas.