GENCATAN SENJATA NUKLIR IRAN-AS, KEMENANGAN ATAU JEBLOK? - Berita Dunia
← Kembali

GENCATAN SENJATA NUKLIR IRAN-AS, KEMENANGAN ATAU JEBLOK?

Foto Berita

PARIS - Sebuah babak baru dalam ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran resmi dimulai. Donald Trump, yang dikenal getol mengkritik perjanjian nuklir era Obama (JCPOA), justru menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Iran di dekat Paris, Prancis, Rabu lalu. Kesepakatan ini memicu perdebatan sengit: apakah ini terobosan diplomatik atau justru sebuah konsesi yang lebih besar dari pendahulunya?

Dalam MOU 14 poin yang diteken secara elektronik ini, Iran berkomitmen untuk tidak memproduksi atau mengembangkan senjata nuklir. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat setuju memberikan keringanan sanksi, paket rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS, dan yang paling krusial: pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Trump, dalam sela-sela pertemuan G7, dengan lantang menyebut kesepakatan ini lebih baik dari JCPOA 2015 yang dulu ia robek. Namun, para analis menahan diri untuk tidak terlalu optimis. Pasalnya, MOU ini hanyalah kerangka awal yang memicu masa negosiasi 60 hari ke depan. Isinya pun lebih fokus pada perpanjangan gencatan senjata, bukan detail program nuklir Iran.

Shahram Akbarzadeh, Direktur Middle East Studies Forum di Australia, dengan tegas menyebut MOU ini tidak menyentuh substansi. "Ini hanya menunda semua pertanyaan soal pengayaan uranium ke meja negosiasi berikutnya," ujarnya kepada Al Jazeera. Ironisnya, komitmen Iran untuk tidak membuat bom atom sebenarnya bukan hal baru. Iran selama ini konsisten menyatakan hal yang sama.

Perbedaan mencolok dengan JCPOA adalah soal pengayaan uranium. Perjanjian era Obama mengizinkan Iran memperkaya uranium hingga 3,67 persen—cukup untuk pembangkit listrik, bukan senjata. Namun, MOU baru ini bungkam soal angka dan durasi. Ini menjadi celah besar yang bisa dimanfaatkan kedua belah pihak.

Dampaknya bagi stabilitas kawasan Timur Tengah sangat signifikan. Jika negosiasi 60 hari gagal, Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—bisa kembali menjadi ladang ranjau geopolitik. Bagi Indonesia, ketidakstabilan di titik ini berarti ancaman langsung pada harga energi dan rantai pasok impor.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook