Pertemuan puncak (KTT) Rusia-Afrika yang ketiga resmi digelar di Moskow. Ajang ini menjadi panggung bagi Presiden Vladimir Putin untuk memperluas pengaruh ekonomi, militer, dan politiknya di Benua Afrika. Namun, di balik gemerlapnya forum investasi dan kemanusiaan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah kerja sama ini benar-benar menguntungkan rakyat Afrika, atau justru sebaliknya?
Dalam KTT kali ini, Putin dijadwalkan memimpin sesi pleno bersama Presiden Burundi, Evariste Ndayishimiye, yang menjabat sebagai Ketua Uni Afrika. Fokus utama pembicaraan meliputi investasi, produksi industri, keamanan pangan, energi, hingga sistem pembayaran. Rusia menjanjikan rencana kerja sama baru untuk periode 2027-2029 sebagai lanjutan dari kesepakatan sebelumnya.
Namun, data berbicara lain. Janji Putin pada KTT 2019 silam untuk menggandakan perdagangan tahunan menjadi 40 miliar dolar AS (sekitar Rp600 triliun) nyatanya belum terealisasi. Hingga 2025, nilai perdagangan barang Rusia dengan Afrika hanya menyentuh angka 27,1 miliar dolar AS. Ketimpangan pun terlihat jelas: Rusia mengekspor barang senilai 14 miliar dolar AS ke Afrika, sementara mereka hanya mengimpor 3,2 miliar dolar AS dari benua tersebut.
Ekspor gandum dan pupuk memang membantu memenuhi kebutuhan pangan Afrika, seperti pengiriman 10,2 juta ton gandum pada paruh pertama 2026. Namun, pola ini justru memperlebar defisit dagang Afrika dan lebih menguntungkan produsen Rusia ketimbang mendorong pembangunan industri lokal.
Selain perdagangan, sektor investasi juga menuai sorotan. Banyak proyek besar yang dijanjikan dalam KTT sebelumnya justru mangkrak. Contohnya, proyek pabrik amonia dan urea senilai 1,2 miliar dolar AS di Angola yang dibatalkan oleh perusahaan Rusia, Uralchem. Meskipun ada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) El Dabaa di Mesir yang melibatkan 18.000 tenaga kerja lokal, proyek tersebut dibiayai oleh utang Rusia sebesar 25 miliar dolar AS yang harus dibayar kembali oleh Mesir beserta bunganya.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat Afrika, fenomena ini menjadi peringatan dini. Ketergantungan pada utang dan impor bahan mentah dapat menjerat negara-negara Afrika dalam siklus defisit anggaran. Sementara bagi masyarakat global, pertumbuhan pengaruh Rusia di Afrika berpotensi mengubah peta geopolitik dan stabilitas keamanan, terutama karena Rusia cenderung mempertahankan rezim sekutu tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Informasi penting lainnya adalah bahwa kesepakatan yang ditandatangani seringkali tidak transparan, sehingga risiko korupsi dan penyelewengan dana pembangunan sangat tinggi.