Langkah diplomatik besar baru saja terjadi di Tanduk Afrika. Israel secara resmi membuka kedutaan besarnya di Hargeisa, Somaliland, setelah Duta Besar pertama mereka menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Abdirahman Mohamed Abdullahi (Cirro) pekan lalu. Upacara peletakan batu pertama gedung kedutaan juga dilakukan dalam kesempatan tersebut, menandai babak baru hubungan bilateral yang kontroversial.
Momen ini menjadi tonggak sejarah karena Israel adalah negara anggota PBB pertama yang mengakui kedaulatan Somaliland, wilayah yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 silam. Dalam pidatonya, Presiden Cirro menyebut hari itu sebagai 'hari bersejarah' dan menekankan posisi strategis Somaliland yang berbatasan langsung dengan Selat Bab al-Mandeb—jalur pelayaran vital penghubung Laut Merah dan Samudra Hindia.
Meski begitu, langkah ini memicu reaksi keras dari Somalia. Presiden Hassan Sheikh Mohamud mencurigai motif Israel bukan sekadar dukungan diplomatik, melainkan ambisi menguasai Laut Merah. Ia menuduh Israel ingin membangun pangkalan militer angkatan laut di wilayah tersebut untuk memperkuat posisinya di tengah meningkatnya konflik di Yaman. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menegaskan bahwa pertukaran duta besar ini adalah pemenuhan komitmen yang telah disepakati sejak Desember 2025.
Analisis Dampak: Pengakuan ini berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan. Bagi Somaliland, ini adalah legitimasi politik yang mereka tunggu selama 35 tahun. Namun bagi masyarakat internasional, khususnya Somalia, ini adalah ancaman kedaulatan. Kehadiran Israel di titik strategis pelayaran global ini juga menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan militer di sekitar Laut Merah, mengingat konflik di Yaman yang kembali memanas. Masyarakat pelaut dan pelaku usaha pelayaran internasional perlu mewaspadai potensi ketidakstabilan keamanan di jalur pelayaran tersebut.