Konflik Rusia-Ukraina memasuki tahun keempatnya dengan catatan kelam: angka korban jiwa yang terus melonjak tajam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy baru-baru ini blak-blakan mengungkap puluhan ribu tentaranya gugur di medan perang. Tak hanya itu, angka prajurit hilang juga tak sedikit. Perkiraan korban dari kedua belah pihak, militer maupun sipil, bahkan menyentuh jutaan jiwa. Di tengah gencarnya pertempuran, pembicaraan gencatan senjata kembali digelar di Abu Dhabi. Namun, Kremlin sudah pasang kuda-kuda, menegaskan tak akan menghentikan gempuran sebelum Kyiv 'menentukan sikap' yang mereka inginkan.
Presiden Zelenskyy, dalam wawancara menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia, menyebut secara resmi ada 55.000 tentara Ukraina yang tewas di medan perang, baik profesional maupun wajib militer. Angka ini lebih tinggi dari pernyataan sebelumnya pada Februari 2025 yang menyebut 46.000 jiwa. Selain itu, ia juga menyoroti 'sejumlah besar' prajurit yang masih dinyatakan hilang.
Namun, perkiraan korban sebenarnya jauh lebih masif. Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington DC, pada pertengahan 2025, memperkirakan hampir 400.000 tentara Ukraina tewas atau terluka sejak perang dimulai. Korban sipil juga jadi sorotan PBB; pada tahun 2025 saja, 2.514 warga sipil tewas dan 12.142 terluka akibat serangan Rusia, angka ini naik sepertiga dari tahun 2024.
Di sisi lain, Rusia juga tidak lepas dari kerugian yang masif. Komandan militer Ukraina, Oleksandr Syrskii, mengklaim pada Januari 2025 bahwa hampir 420.000 tentara Rusia tewas atau terluka di tahun itu saja. Intelijen pertahanan Inggris bahkan memprediksi total 1,1 juta prajurit Rusia telah menjadi korban (tewas atau terluka) sepanjang perang hingga Oktober 2025.
Wajar jika kedua belah pihak jarang membeberkan angka korban mereka sendiri. Sebaliknya, baik Kyiv maupun Moskow sibuk saling menuding dan membesar-besarkan kerugian lawan, menciptakan 'kabut perang' informasi yang tebal, sehingga sulit bagi publik untuk mengetahui angka pasti yang akurat.
Di tengah semua itu, perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat digelar di Abu Dhabi. Utusan Kyiv menyebut hari pertama pembicaraan ini 'produktif'. Namun, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kembali menegaskan, Rusia akan terus berjuang sampai Kyiv membuat 'keputusan' yang diharapkan untuk mengakhiri konflik. Titik ganjalan utama tetap sama: tuntutan Moskow agar Kyiv menyerahkan wilayah yang masih mereka kuasai, serta nasib Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang jadi rebutan. Angka korban yang mencapai jutaan ini tentu jadi bukti betapa mahalnya harga sebuah konflik. Sulitnya mencapai titik temu di meja perundingan, ditambah tuntutan yang saling bertolak belakang, membuat jalan menuju perdamaian sejati masih sangat panjang dan berliku. Dampaknya tidak hanya kehilangan nyawa, tapi juga kerusakan infrastruktur, krisis ekonomi, dan trauma psikologis yang membekas bagi generasi mendatang.