SAO PAULO - Pertarungan memperebutkan kursi Presiden Brasil semakin memanas. Dua kandidat kuat, Luiz Inacio Lula da Silva dan Flavio Bolsonaro, diketahui memiliki elektabilitas yang sangat ketat jelang pemungutan suara pada hari Minggu mendatang.
Dalam debat terakhir yang digelar di Rio de Janeiro, keduanya saling serang terkait kebijakan ekonomi dan pembangunan. Lula mempertanyakan rencana Bolsonaro yang dianggap terlalu radikal dalam memangkas anggaran publik, menyamakannya dengan gaya Presiden Argentina, Javier Milei. Namun, Bolsonaro membalas dengan menuduh Lula membiarkan negara dalam kondisi bangkrut dan gagal menekan harga kebutuhan pokok.
Meski sempat terjadi ketegangan personal, seperti sindiran julukan 'Sembilan Jari' hingga isu keterkaitan dengan kelompok paramiliter, debat kali ini dinilai lebih diplomatis dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hasil survei terbaru menunjukkan kedua kandidat kini imbang di angka 50 persen, mematahkan tren kemenangan Bolsonaro pada survei dua pekan lalu.
Analisis Dampak: Ketatnya persaingan ini berpotensi memecah belah masyarakat Brasil yang sudah terpolarisasi. Masyarakat diharapkan mewaspadai potensi gesekan sosial pasca-pemilu, mengingat pendukung kedua kubu sangat militan. Selain itu, ketidakpastian politik ini bisa berdampak pada stabilitas pasar keuangan negara tersebut.