Rencana militer Israel untuk kembali membuka Jalan Rute 463 bagi pemukim ilegal memicu kekhawatiran besar. Langkah ini bukan sekadar soal lalu lintas, melainkan ancaman nyata yang bisa memotong konektivitas wilayah Ramallah dan memecah belah komunitas Palestina.
Jika direalisasikan, jalan sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan permukiman Beit El dan Dolev ini akan mengurung delapan desa Palestina serta dua lingkungan pemukiman padat di Ramallah Utara dan el-Bireh. Wilayah yang terdampak meliputi desa Surda, at-Tira, hingga Ein Qiniya. Akibatnya, wilayah Ramallah dan el-Bireh yang dihuni hampir 400.000 jiwa akan terbelah menjadi dua bagian yang terisolasi.
Proyek ini merupakan bagian dari anggaran infrastruktur pemukim senilai 1,075 miliar Shekel Israel (sekitar Rp4,6 triliun). Pemerintah Israel mendesak agar proyek ini rampung sebelum pemilu 27 Oktober mendatang, bahkan berupaya mem-bypass parlemen (Knesset) demi mempercepat prosesnya.
Dampak bagi masyarakat sipil sangat signifikan. Puluhan ribu warga Palestina terpaksa harus melewati jalan alternatif lama di dekat kamp Jalazone yang sudah sangat padat dan tidak memadai. Otoritas Palestina menilai ini sebagai upaya sistematis untuk menghancurkan kesatuan geografis dan demografis Palestina, sekaligus menghambat perluasan kota Ramallah yang selama dua dekade terakhir bergerak ke arah barat.