Seorang gadis kecil berusia enam tahun yang menjadi pasien Ebola di Republik Demokratik Congo (DRC) akhirnya ditemukan dalam kondisi stabil. Sebelumnya, ia dan ibunya diculik oleh sekelompok pria bersenjata dari rumah sakit di Kota Butembo, wilayah timur DRC, pada Senin (17/6) lalu. Kejadian ini sontak membuat otoritas setempat dan tim medis khawatir karena bisa memicu penyebaran virus lebih luas.
Kepala Dinas Kesehatan setempat, Dr. Lubambo Maboko Gaston, mengkonfirmasi kepada BBC bahwa anak tersebut dan ibunya secara sukarela datang ke pusat perawatan Ebola sekitar 18 kilometer dari Butembo pada Jumat (21/6). “Kondisinya saat ini dianggap stabil,” ujar Dr. Gaston. Meski begitu, aksi penculikan ini menyoroti masalah serius: masih banyak warga yang curiga dan takut terhadap pusat perawatan Ebola. Banyak yang percaya virus ini adalah rekayasa pihak asing untuk mencari uang.
Wabah Ebola di DRC yang dipicu oleh spesies langka Bundibugyo ini telah menewaskan lebih dari 230 orang dan mengonfirmasi 890 kasus. Serangan terhadap fasilitas medis bukan hal baru. Sebelumnya, kerumunan warga di Mongbwalu dan Rwampara juga sempat memblokade petugas dan membakar tenda isolasi. Tanpa penanganan jenazah yang aman, virus bisa menyebar dengan cepat.
Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) memperingatkan wabah ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Saat ini, belum ada vaksin untuk spesies Bundibugyo, dan WHO memperkirakan butuh waktu berbulan-bulan untuk menyiapkannya. Uganda yang berbatasan dengan DRC sudah melaporkan 19 kasus, termasuk dua kematian, meski tidak ada kasus baru sejak 5 Juni. WHO telah mengucurkan dana 3,9 juta dolar AS, sementara Africa CDC menganggarkan 319 juta dolar AS untuk mengatasi wabah.