Caracas, Venezuela — María Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela yang telah lama hidup di pengasingan, akhirnya kembali ke tanah airnya. Kedatangannya disambut lautan massa yang bersorak gembira di sepanjang jalan dari negara bagian Lara hingga ibu kota Caracas. Kontras dengan kepergiannya 10 bulan lalu yang dilakukan secara diam-diam di malam hari untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, kepulangannya kali ini terang-terangan dan penuh keberanian.
Perjalanan pulang Machado sempat terhambat oleh pemerintah Venezuela dan juga pemerintahan Trump yang menilai "waktu belum tepat". Kini, situasi telah berubah drastis. Nicolás Maduro, yang dulu berkuasa, telah digulingkan oleh militer AS pada 3 Januari lalu dan kini menghadapi tuduhan narkoba serta penyiksaan di New York. Posisinya digantikan oleh mantan wakil presiden, Delcy Rodríguez, yang telah membuka lembaran baru hubungan dengan Washington.
Kepulangan Machado disambut antusias oleh generasi muda. Gregory Noriega (20), yang mengenakan jaket logo oposisi, menyebut Machado sebagai "pemimpin Venezuela yang tak terbantahkan" dan simbol harapan. Sementara itu, Hilary (18) melihat ini sebagai langkah maju dalam proses elektoral yang dinanti sejak tahun lalu. "Seluruh negeri ada di belakangnya untuk menunjukkan bahwa Venezuela tidak lagi takut," ujarnya.
Namun, situasi politik kini lebih rumit. Meskipun Machado dulu dianggap sebagai alternatif favorit Washington, pemerintahan Trump saat ini tampak puas dengan kepemimpinan Rodríguez, setidaknya untuk sementara. Baru-baru ini, AS menandatangani kesepakatan minyak besar dengan Venezuela, memberikan konsesi 100 tahun atas 65 miliar barel minyak mentah melalui perusahaan swasta NABEP. Machado sendiri secara terbuka mengkritik kesepakatan ini, namun dengan hati-hati mengarahkan kritiknya ke Caracas dan pengusaha Alejandro Betancourt, bukan ke Trump, mengingat ia masih mengharapkan dukungan AS untuk melanjutkan perjuangannya.