Kemenangan Harry Kane sebagai peraih Ballon d'Or 2025 menjadi momen bersejarah. Striker Bayern Munich itu menjadi orang Inggris pertama yang meraihnya sejak Michael Owen pada 2001. Namun, di balik euforia, muncul pertanyaan mendasar: seberapa adil penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola ini menilai keunggulan di olahraga tim?
Selama dua dekade terakhir, dominasi rivalitas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sempat menenggelamkan diskusi kritis. Dari 2008 hingga 2017, keduanya silih berganti mengangkat trofi, dengan Messi mengoleksi delapan gelar dan Ronaldo lima. Total, mereka menyumbang 13 dari 17 penghargaan yang diberikan antara 2008 dan 2025. Rivalitas ini memang mendongkrak popularitas ajang yang pertama kali digelar pada 1956, tetapi juga mengaburkan sejumlah isu penting.
Kritik utama menyoroti tiga hal. Pertama, komersialisasi berlebihan. Ballon d'Or kini menjelma panggung hiburan global di mana pesepakbola menjadi merek dagang sendiri. Steve Martin, pendiri MSQ Sport + Entertainment, menilai perubahan ini tak terhindarkan seiring transformasi industri olahraga. Namun, mantan bek Swiss Ramon Vega justru menilai arah komersialisasi ini sudah melenceng dari tujuan awal penghargaan.
Kedua, bias posisi. Penghargaan ini secara konsisten lebih memihak pemain menyerang. Kiper legendaris Lev Yashin (1963) menjadi satu-satunya penjaga gawang peraih Ballon d'Or, sementara Fabio Cannavaro (2006) menjadi bek terakhir yang menang. Padahal, kontribusi kiper dan bek sama krusialnya dalam olahraga tim.
Ketiga, dominasi Eropa. Meski diklaim sebagai ajang global, Ballon d'Or nyaris tak pernah lepas dari sorotan sepak bola Eropa, membuat talenta dari liga lain sulit mendapat pengakuan setara.
Dampak bagi Masyarakat: Perdebatan ini penting bagi penggemar sepak bola. Kesadaran bahwa Ballon d'Or bukan sekadar soal statistik gol atau assist, tetapi juga soal politik industri dan bias media, membuat publik lebih kritis dalam menilai prestasi pemain. Bagi industri olahraga nasional, kritik ini menjadi cermin agar tidak terjebak komersialisasi berlebihan yang mengorbankan esensi sportivitas.