BEIRUT — Perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon kembali berada di ujung tanduk. Serangan Israel masih terus mengguncang Lebanon, termasuk di dekat ibu kota Beirut, dan menewaskan sedikitnya sembilan orang pada Rabu (23/4). Yang paling brutal, Israel menembaki langsung sebuah ambulans di daerah Khaldeh, pinggiran selatan Beirut, dan melukai dua petugas medis.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan itu juga menewaskan dua paramedis di kota Chehour dan enam orang lainnya di dekat kota pesisir Tyre. Seorang tentara Lebanon pun ikut tewas saat melintas di jalan selatan negara itu. Jurnalis Al Jazeera di Beirut, Ali Hashem, menyebut situasi ini sebagai eskalasi besar yang membawa konflik kembali ke titik nol.
Rekannya, Zeina Khodr, menambahkan bahwa serangan di dekat Beirut memicu kekhawatiran bahwa tidak ada lagi garis depan yang aman dalam konflik ini. Lebanon mendesak Israel untuk mematuhi gencatan senjata penuh, namun Israel menolak. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersikeras bahwa mereka harus melucuti senjata Hizbullah dan mendemiliterisasi Lebanon sebagai syarat perdamaian.
Menariknya, Presiden AS Donald Trump mengaku sempat bersitegang dengan Netanyahu. Dalam wawancara dengan podcast New York Post, Trump mengatakan dia 'sedikit jengkel' karena Netanyahu terus-menerus berperang dengan Lebanon. Namun, kantor Netanyahu justru menyatakan Israel tetap punya hak untuk menyerang Beirut jika Hizbullah melanggar.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa serangan Israel ke Beirut akan berakibat fatal dan memicu perang skala penuh. Iran bahkan sudah menyiagakan pasukan militernya untuk serangan balasan. Situasi ini menjadi bumerang bagi negosiasi AS dengan Iran, yang menuntut gencatan senjata penuh di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan.
Analisis: Konflik ini menunjukkan bahwa gencatan senjata hanya berlaku di atas kertas. Tembakan langsung ke ambulans adalah pelanggaran hukum humaniter internasional yang serius. Masyarakat sipil kembali menjadi korban, sementara diplomasi Washington terlihat mandek. Jika Israel terus mengingkari janji, bukan tidak mungkin Lebanon dan Iran akan merespons dengan kekuatan penuh, mengubah kawasan Timur Tengah menjadi medan perang terbuka.