Ancaman terorisme kembali jadi sorotan utama! Setelah sempat digadang-gadang hampir musnah, kelompok ekstremis ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant) kini justru disebut-sebut kian berbahaya. Padahal, wilayah kekuasaan mereka di Suriah dan Irak sudah hancur lebur.
Dahulu, ISIL merupakan kekuatan yang sangat menakutkan, berhasil menguasai sekitar sepertiga wilayah Suriah dan 40 persen dari daratan Irak. Sebuah teritori yang luasnya menyerupai beberapa negara. Namun, kejayaan teritorial itu kini tinggal sejarah. ISIL memang tidak lagi memegang kendali atas wilayah sebesar itu.
Meski begitu, para analis keamanan global justru mencatat bahwa ancaman dari kelompok ini bukannya mereda, melainkan malah kembali meningkat tajam. Pergeseran ini mengindikasikan bahwa ISIL kini beralih strategi. Mereka tidak lagi bergantung pada kontrol wilayah fisik, melainkan fokus pada taktik perang gerilya, serangan sporadis yang mematikan, serta yang paling berbahaya, menyebarkan ideologi radikal dan merekrut anggota baru melalui jaringan daring yang sulit dilacak.
Fenomena ini tentu saja menjadi peringatan serius. Dampaknya tidak hanya terbatas di Timur Tengah, tetapi berpotensi memicu gelombang aksi teror baru di berbagai belahan dunia, menuntut kewaspadaan ekstra dan koordinasi global yang lebih kuat dalam upaya kontra-terorisme.