Kondisi pilu menyelimuti wilayah Tigray, Etiopia utara. Di sana, warga seperti Nireayo Wubet, seorang pria 88 tahun, harus menghabiskan hari-harinya menguburkan teman dan keluarga. Ironisnya, ancaman kematian kini datang bukan dari peluru perang, melainkan hantu kelaparan yang kian mengerikan. Wubet, yang pernah jadi petani tangguh, kini mengkhawatirkan siapa yang akan menguburnya nanti, di tengah desanya yang digerogoti paceklik parah.
"Kami nyaris tidak menerima bantuan kemanusiaan," keluh Nireayo, yang kondisi tubuh ringkihnya mencerminkan penderitaan banyak warga di desa Hitsats, dekat perbatasan Eritrea. "Bukan konflik yang akan membunuh kami, tapi kelaparan," tegasnya. Empat tahun lalu, Nireayo harus mengungsi ke Hitsats karena konflik dan kekerasan etnis yang pecah di wilayah tersebut, termasuk perang Tigray yang dimulai 2020 dan menewaskan ribuan orang serta menyebabkan jutaan lainnya mengungsi.
Desa Hitsats, seperti banyak wilayah lain di Tigray, dulunya sangat bergantung pada uluran tangan organisasi kemanusiaan, termasuk USAID (United States Agency for International Development), yang pernah menjadi penyalur bantuan terbesar di Etiopia. Namun, semuanya berubah drastis. Pemotongan dana bantuan kemanusiaan yang dimulai sejak era Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjabat, kini terasa dampaknya. USAID secara signifikan memangkas operasional dan pendanaannya di seluruh dunia.
Akibatnya, di seluruh provinsi Tigray, organisasi kemanusiaan seperti Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa hingga 80 persen penduduk memerlukan bantuan darurat. Namun, dengan berkurangnya dana dari USAID, ketersediaan bantuan pun ikut menyusut, dan bantuan yang ada seringkali dialihkan ke "zona panas" atau konflik global yang dianggap lebih mendesak.
Organisasi medis Doctors Without Borders (MSF), yang aktif membantu populasi rentan di Etiopia dan Tanduk Afrika, menegaskan bahwa pemotongan dana oleh AS ini telah "mengacaukan program kesehatan dan kemanusiaan global di seluruh dunia" dan menyebabkan "kerugian manusia yang sangat besar." Sebagai contoh, di Somalia, terputusnya bantuan menyebabkan pengiriman susu terapeutik terhenti berbulan-bulan, meningkatkan kasus malnutrisi anak. Di Sudan Selatan, pemotongan dana memaksa organisasi bantuan menghentikan dukungan untuk staf rumah sakit, menciptakan kekosongan dalam layanan persalinan. Bahkan di Republik Demokratik Kongo, pembubaran program USAID membatalkan pesanan 100.000 kit pasca-pemerkosaan, termasuk obat pencegah HIV.
Etiopia, yang dulunya adalah penerima dana USAID terbesar di Sub-Sahara Afrika, kini menghadapi celah kritis dalam pemenuhan kebutuhan dasar warganya. Pemotongan dana ini bukan hanya menambah beban organisasi lain, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya sebuah negara ketika stabilitasnya sangat bergantung pada bantuan asing. Saat kebijakan donor bergeser, krisis kemanusiaan bisa memburuk melampaui dampak perang, mengancam jutaan nyawa yang sudah menderita.