Duka mendalam menyelimuti Doris Adu Gyamfi. Setelah melalui perjuangan birokrasi yang rumit, ia akhirnya bisa terbang ke Amerika Serikat untuk melihat jasad buah hatinya, Javits Frimpong (15), yang tewas ditembak di Bronx, New York, pekan lalu. Sebelum keberangkatannya dari Ghana, Doris menyampaikan pesan tegas: ia menuntut keadilan atas kematian anaknya yang bercita-cita menjadi dokter itu.
Insiden nahas tersebut terjadi pada Kamis pagi waktu setempat saat Javits dalam perjalanan ke sekolah. Ia dikejar dan ditembak oleh pelaku yang diduga kuat merupakan tiga remaja lain. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Hingga kini, kepolisian setempat belum melakukan penangkapan, meski rekaman CCTV telah mengidentifikasi para pelaku yang melarikan diri.
Perhatian publik internasional langsung tersita. Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump turun tangan langsung untuk mempercepat pemberian visa darurat bagi Doris. "Seorang ibu berhak mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya secara langsung," ujar Mamdani. Pemerintah Ghana juga angkat bicara, mengecam keras aksi kekerasan tersebut dan mendesak otoritas AS melakukan investigasi menyeluruh.
Kasus ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Bagi masyarakat Indonesia dan dunia, peristiwa ini kembali membuka luka lama tentang perdebatan kontrol senjata api di AS yang kian longgar. Selain itu, insiden ini memicu kekhawatiran baru bagi para orang tua di negara berkembang, khususnya di Afrika, mengenai keamanan anak-anak mereka yang menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam. Solidaritas internasional pun mengalir, menuntut agar keadilan ditegakkan dan tragedi serupa tidak terulang.