Seorang anggota Marinir Amerika Serikat, Devin Jacob Ballard (20), resmi dituntut atas kasus pembunuhan dan perampokan seorang perempuan di Okinawa, Jepang. Insiden yang terjadi awal bulan ini langsung memicu gelombang protes dari masyarakat setempat.
Ballard yang bertugas di Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma itu didakwa telah mencekik korban bernama Anna Yagi (39) menggunakan kabel telepon di sebuah hotel di Naha, ibu kota Okinawa, pada 3 Oktober lalu. Setelah menghabisi nyawa korban, ia dilaporkan membawa kabur tas ransel dan dompet milik Yagi.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) menjadi bukti kunci dalam kasus ini. Rekaman tersebut memperlihatkan seorang pria yang diduga kuat sebagai pelaku masuk ke hotel bersama korban, lalu keluar sendirian dengan membawa barang-barang korban. Meski sempat membantah tuduhan, penyidik menyebut Ballard telah memberikan sejumlah keterangan yang mengarah pada keterlibatannya.
Kasus ini memicu kemarahan besar di Jepang. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut kejahatan ini sebagai tindakan yang "brutal dan keji". Pemerintah Jepang pun telah menyampaikan protes keras kepada pihak AS dan menuntut tindakan disipliner tegas terhadap personel militer AS serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Okinawa selama ini menjadi lokasi dengan konsentrasi pangkalan militer AS terbesar di Jepang, menampung sekitar 55.000 tentara. Beban historis ini membuat warga Okinawa sangat sensitif terhadap perilaku personel militer AS. Pada tahun 2024 saja, tercatat ada empat kasus kekerasan seksual yang melibatkan tentara AS di wilayah tersebut. Gubernur Okinawa, Genta Koja, menilai insiden terbaru ini sebagai tanda lemahnya disiplin di tubuh militer AS.
Ratusan warga telah turun ke jalan di Naha dan Tokyo untuk menyuarakan kemarahan mereka. Di media sosial, tagar protes dan seruan keadilan kembali bergema, dengan banyak warganet yang menyatakan bahwa他们已经 muak dengan rangkaian kejahatan yang dilakukan oleh pihak militer AS di tanah mereka.