Anggota parlemen AS menyoroti dugaan mantan Presiden Donald Trump menyimpan dokumen negara super rahasia setelah tak menjabat. Isu ini makin panas setelah memo baru mengungkap detail mengejutkan, bahkan mengarah ke potensi penyalahgunaan demi kepentingan pribadi yang bisa mengancam keamanan nasional.
Jamie Raskin, politikus Demokrat dari Komite Kehakiman DPR AS, menuding Trump sengaja menahan dokumen-dokumen sangat rahasia milik pemerintah AS. Tuduhan serius ini muncul berdasarkan memo internal kejaksaan tahun 2023 yang baru saja dibuka untuk publik.
Dokumen-dokumen yang dimaksud disebut-sebut begitu sensitif, bahkan hanya enam orang di seluruh pemerintahan AS yang punya akses. Yang lebih mengejutkan, ada dugaan kuat bahwa sebagian dokumen itu berkaitan dengan kepentingan bisnis Trump sendiri. Bahkan, Raskin menyebut Trump pernah menunjukkan peta rahasia kepada penumpang di pesawat pribadinya. Memo tersebut juga mengungkap insiden seorang ajudan Trump yang memindai beberapa dokumen rahasia ke laptopnya dan mengunggahnya ke layanan cloud, meskipun bagian selanjutnya dari insiden itu disensor sehingga detail lengkapnya masih misterius.
Jaksa penuntut dalam memo 2023 itu sempat membahas motif 'potensi keuntungan bisnis' terkait penyimpanan dokumen ini. Mereka juga menilai pelepasan informasi semacam itu bisa menimbulkan 'kerugian besar bagi keamanan nasional'.
Raskin pun sudah melayangkan surat kepada Jaksa Agung Pam Bondi untuk meminta klarifikasi dan menuntut agar seluruh file investigasi terkait kasus ini segera dirilis. Namun, Departemen Kehakiman (DOJ) tidak tinggal diam. Mereka langsung menepis tudingan Raskin, menyebutnya 'aksi politik murahan' yang didasari kebencian terhadap Trump. Ini kembali menunjukkan panasnya intrik politik di Amerika Serikat.
Meskipun dakwaan kriminal terhadap Trump terkait dokumen ini sempat dibatalkan pada 2023, terkuaknya memo ini kembali memanaskan perdebatan tentang integritas dan transparansi pejabat publik, terutama yang berkaitan dengan penanganan rahasia negara. Kasus semacam ini bukan yang pertama bagi Trump, mengingatkan pada kontroversi dokumen rahasia di kediaman Mar-a-Lago sebelumnya. Situasi ini tidak hanya berpotensi memiliki implikasi hukum serius, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah dan proses penanganan informasi sensitif yang krusial bagi pertahanan dan keamanan nasional. Ini adalah babak baru dalam saga politik yang tak berkesudahan di AS, dengan dampak yang bisa meluas pada stabilitas politik dan citra negara di mata dunia.