PENTAGON TUTUP AKSES WARTAWAN, KEBEBASAN PERS TERANCAM - Berita Dunia
← Kembali

PENTAGON TUTUP AKSES WARTAWAN, KEBEBASAN PERS TERANCAM

Foto Berita

Washington, DC - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) secara resmi menutup akses jurnalis ke kantor pers mereka. Langkah ini diumumkan langsung oleh Penjabat Sekretaris Pers Pentagon, Joel Valdez, pada Senin (14/4) waktu setempat.

Valdez beralasan, ruangan tersebut kini dialihfungsikan menjadi 'Sensitive Compartmented Information Facility' (SCIF). Alasannya, ruangan itu digunakan oleh para penulis pidato yang kerap mengakses informasi rahasia negara melalui jaringan komputer aman SIPRNet. Kini, wartawan hanya bisa masuk kantor tersebut jika membuat janji terlebih dahulu.

Kebijakan ini bukanlah yang pertama. Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih, pemerintahannya gencar mempersempit ruang gerak media. Sebelumnya, Pentagon sudah melarang media memiliki kantor tetap di kompleks tersebut pada Maret lalu. Aturan baru juga mewajibkan wartawan didampingi petugas saat berada di dalam area Pentagon.

Dampak dan Kecaman

Langkah ini langsung menuai kecaman keras dari organisasi pers. National Press Club menyebutnya sebagai 'eskalasi yang meresahkan' dan upaya untuk membungkus laporan independen soal militer AS. 'Ketika jurnalis dijauhkan dari institusi yang mereka liput, publik kehilangan informasi, transparansi, dan pengawasan,' tegas Presiden National Press Club, Mark Schoeff Jr.

Senada dengan itu, Freedom of the Press Foundation menilai alasan kerahasiaan yang dipakai Pentagon tidak masuk akal. 'Sulit membayangkan dasar apa yang mereka miliki untuk menyebut ruangan itu rahasia. Satu-satunya hal yang sensitif dari informasi Pentagon saat ini adalah kebenarannya yang dipertanyakan,' ujar Seth Stern, kepala advokasi organisasi tersebut.

Langkah ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers global. Jika Amerika Serikat, yang selama ini menjadi kiblat demokrasi, mulai membungkam media, maka negara-negara lain bisa dengan mudah meniru tindakan serupa. Masyarakat internasional perlu mengawasi perkembangan ini karena transparansi militer adalah pilar penting dalam checks and balances di negara demokrasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook