Insiden memilukan kembali mengguncang Okinawa. Seorang Marinir Amerika Serikat berusia 20 tahun ditangkap polisi Jepang karena diduga membunuh seorang wanita berusia 39 tahun di sebuah hotel di Naha. Korban ditemukan tewas diduga akibat dicekik, dan dompetnya hilang. Meski telah dikirim ke kejaksaan, tersangka membantah semua tuduhan tersebut.
Peristiwa ini memicu kemarahan besar di Jepang. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut kasus ini sebagai "kejahatan keji" dan mendesak AS untuk menegakkan disiplin di kalangan personel militernya. Pemerintah Jepang telah memanggil Duta Besar AS dan komandan pasukan AS di Jepang sebagai bentuk protes resmi.
Masyarakat Okinawa turun ke jalan. Sekitar 100 orang berdemo di depan gedung pemerintahan prefektur, sementara 100 lainnya menggelar aksi di Naha. Seorang mahasiswa Okinawa, Sorane Sakihama (24), yang mengorganisir protes di Tokyo, mengaku menangis mengetahui kematian korban. "Kami tidak bisa melindunginya. Itu membuat saya sangat marah dan sedih," ujarnya. Ia berencana menggelar aksi susulan di depan Kedutaan Besar AS.
Data Yomiuri Shimbun mencatat, sejak Okinawa dikembalikan ke Jepang pada 1972, sekitar 6.000 personel militer AS telah ditangkap di Jepang. Kasus ini menambah daftar panjang insiden kriminal yang melibatkan tentara AS di wilayah tersebut, termasuk pemerkosaan, penyerangan, dan mengemudi dalam keadaan mabuk.