Insiden penembakan tragis terjadi di wilayah pinggiran Paris, Prancis utara, pada Jumat (10/10) pagi waktu setempat. Seorang pria bersenjata api otomatis melepaskan tembakan secara acak di area publik, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya. Korban luka termasuk seorang gadis berusia 12 tahun yang dilaporkan menderita luka serius akibat tembakan.
Pelaku yang diidentifikasi sebagai Kevin T (39 tahun) melakukan aksinya selama sekitar 15 menit di kota Trappes dan La Verriere—kawasan pemukiman kelas pekerja dengan populasi imigran dan Muslim yang signifikan. Ia menembaki sebuah pompa bensin, pusat medis, dan taman bermain anak sebelum akhirnya ditangkap polisi.
Presiden Emmanuel Macron menyebut insiden ini sebagai 'serangan teroris dan rasis'. Motif pelaku terungkap setelah ia mengaku kepada polisi bahwa tujuannya adalah 'membunuh orang asing'. Korban tewas diketahui bernama Pengo Bassio Wangi, seorang pria kulit hitam. Sementara itu, seorang wanita dan gadis berusia 12 tahun yang mengenakan jilbab juga menjadi korban dalam penembakan tersebut.
Pihak berwenang menemukan senjata semi-otomatis gaya Perang Dunia II dan granat gas air mata di dalam mobil pelaku. Investigasi masih berlangsung untuk menyelidiki kemungkinan keterlibatan kelompok teroris, dan satu anggota keluarga pelaku telah diamankan.
Insiden ini terjadi di tengah tensi politik dan sosial yang memanas di Prancis akibat gelombang protes biaya hidup yang sering berujung kekerasan. Otoritas setempat berencana mengerahkan 70.000 personel polisi pada Sabtu untuk mengamankan demonstrasi lanjutan, sementara kelompok pemantau mencatat meningkatnya diskriminasi rasial terhadap umat Muslim di Eropa.