PENGGANTI GADDAFI TEWAS DITEMBAK, LIBYA MAKIN TAK MENENTU? - Berita Dunia
← Kembali

PENGGANTI GADDAFI TEWAS DITEMBAK, LIBYA MAKIN TAK MENENTU?

Foto Berita

Kabar duka menyelimuti Libya. Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin otoriter Muammar Gaddafi, ditemukan tewas ditembak di rumahnya. Ribuan pelayat hadir mengantarkan jenazahnya, menandai berakhirnya sosok kontroversial yang pernah digadang-gadang sebagai penerus ayahnya, sekaligus potensi alternatif di tengah perpecahan politik Libya.

Saif al-Islam tewas pada Selasa setelah rumahnya di kota Zintan, Libya barat laut, diserbu empat pria bersenjata tak dikenal. Kantornya menyebut insiden itu sebagai 'konfrontasi langsung'. Jaksa Agung Libya memastikan korban meninggal akibat luka tembak setelah pemeriksaan oleh penyidik dan dokter forensik, dan kini tengah bekerja keras mengidentifikasi para pelaku.

Jumat kemarin, ribuan orang tumpah ruah di Bani Walid, sekitar 175 kilometer selatan Tripoli, untuk menghadiri pemakamannya. Mereka adalah para loyalis yang masih mengenang era kepemimpinan Muammar Gaddafi, ayah Saif, yang digulingkan dan dibunuh pada 2011 silam, hampir 15 tahun yang lalu.

Saif al-Islam Gaddafi memang bukan sosok sembarangan. Ia pernah dianggap 'perdana menteri de facto' di bawah kekuasaan besi sang ayah selama 40 tahun, meski tanpa jabatan resmi. Awalnya, ia membangun citra sebagai reformis, memimpin perundingan penghentian program senjata pemusnah massal Libya, dan negosiasi kompensasi korban bom Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.

Namun, citra itu hancur saat Revolusi 2011, di mana ia menjanjikan 'sungai darah' bagi para pemberontak. Akibatnya, ia ditangkap tahun itu juga dengan surat perintah dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada 2021, ia sempat mengejutkan publik dengan mengumumkan pencalonan diri sebagai presiden, sebuah upaya untuk menyatukan Libya di bawah kesepakatan PBB. Sayangnya, pemilihan itu ditunda tanpa batas waktu.

Kematian Saif al-Islam Gaddafi datang di saat Libya masih terpecah belah, antara pemerintah yang didukung PBB di Tripoli yang dipimpin Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah, dan administrasi timur yang didukung Khalifa Haftar. Banyak pihak melihat Saif sebagai alternatif di tengah duopoli kekuasaan ini. Yang menarik, insiden pembunuhan ini terjadi kurang dari seminggu setelah adanya laporan pertemuan penting pada 28 Januari di Istana Elysee Prancis, yang mempertemukan putra Haftar dengan penasihat Dbeibah. Kematian Saif tentu saja menambah kompleksitas dinamika politik di Libya, berpotensi menciptakan kekosongan atau justru membuka babak baru pertarungan pengaruh di negara kaya minyak itu, memicu pertanyaan besar tentang arah masa depan Libya yang kian tak menentu.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook