DOHA – Presiden FIFA, Gianni Infantino, melakukan kunjungan mendadak ke ruang ganti timnas Iran usai mereka bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru dalam laga uji coba tertutup, Senin (11/9) waktu setempat. Dalam momen yang penuh emosi, Infantino secara langsung menyampaikan dukungan moral kepada para pemain.
“Saya tahu apa yang kalian alami,” ujar Infantino kepada skuad Iran, merujuk pada situasi pelik yang membayangi tim ini. Selama berbulan-bulan, timnas Iran menjadi sorotan karena gelombang protes di dalam negeri yang menuntut kebebasan dan hak asasi manusia. Para pemain sempat menunjukkan solidaritas dengan tidak menyanyikan lagu kebangsaan di Piala Dunia 2022 lalu, yang memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.
Kunjungan ini terjadi di tengah ketidakpastian nasib tim Iran di pentas internasional. Beberapa federasi sepak bola Eropa sebelumnya mendesak FIFA untuk menjatuhkan sanksi atas dugaan keterlibatan pemerintah Iran dalam menekan pemain. Namun, langkah Infantino menemui langsung para pemain dinilai sebagai sinyal bahwa FIFA lebih memilih pendekatan humanis daripada hukuman.
Analisis Dampak: Sikap FIFA ini menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, kehadiran Infantino bisa meredakan tekanan politik yang membebani mental pemain. Namun di sisi lain, langkah ini dikritik oleh aktivis HAM yang menilai FIFA terlalu lunak terhadap rezim Iran. Media internasional seperti The Guardian dan BBC menyoroti bahwa FIFA seharusnya bertindak tegas, bukan sekadar memberikan pelukan simbolis. Keputusan ini akan terus menjadi sorotan menjelang putaran final Piala Dunia 2026 jika Iran berhasil lolos.