Valencia, Venezuela — Krisis listrik yang melanda Venezuela semakin parah. Pemadaman bergilir yang berlangsung hingga tujuh jam sehari kini menjadi momok menakutkan bagi warga, termasuk mereka yang bergantung pada layanan kesehatan vital.
Salah satunya adalah Onasis Munoz, pasien cuci darah asal Valencia. Mesin dialisis yang menopang hidupnya kerap mati mendadak karena pemadaman listrik. Baterai darurat di klinik sudah habis, sementara genset cadangan rusak. Akibatnya, kesehatan pria 34 tahun itu terus menurun. "Saya sampai di rumah seperti habis lari maraton," ujarnya, dikutip dari laporan media internasional.
Pemadaman listrik ini tidak hanya terjadi di Valencia, tetapi hampir merata di seluruh negeri. Pemerintahan sementara Presiden Delcy Rodriguez terpaksa melakukan penjatahan listrik karena pasokan yang tidak stabil. Kondisi ini memicu kemarahan publik. Aksi protes pun pecah di berbagai daerah. Warga turun ke jalan melakukan 'cacerolazos'—tradisi memukul panci dan wajan—hingga memblokir jalan dan membakar ban.
Data dari ANOVA Policy Research mencatat, 62,8 persen rumah tangga di Venezuela mengalami pemadaman listrik harian pada 2026. Angka ini melonjak drastis dibanding 2024 yang hanya 37,1 persen. Hanya 6,9 persen rumah tangga yang mengaku mendapat pasokan listrik terus-menerus.
Pemerintah menyalahkan fenomena iklim El Niño dan sanksi asing sebagai penyebab krisis. Namun, pengamat energi Nelson Hernandez menilai pemerintah gagal mengelola sistem kelistrikan yang 90 persen bergantung pada tenaga air (hidro). Ketergantungan ini membuat sistem rentan terhadap kekeringan dan cuaca ekstrem. Bagi masyarakat, krisis ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi ancaman nyata bagi keselamatan jiwa dan roda perekonomian.