Oaxaca, Meksiko — Industri pers Meksiko kembali berduka. Hamurabi Huesca Manzano, seorang jurnalis yang juga bekerja sebagai sopir taksi, tewas ditembak di negara bagian Oaxaca pada Jumat lalu. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap awak media di negeri itu, mencatatkan Huesca sebagai jurnalis kesembilan yang tewas sepanjang tahun ini.
Huesca bukanlah nama sembarangan. Ia merupakan pemilik sekaligus pengelola situs berita lokal, Pinotepa Comunica. Namun, tragisnya, nyawanya melayang saat ia sedang menjalankan profesi sampingannya sebagai pengemudi taksi. Laporan dari kantor kejaksaan setempat menyebutkan bahwa insiden tersebut bermula ketika sekelompok pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang ditumpangi Huesca dan dua penumpang lainnya.
Penyelidikan awal pihak berwenang mengarah pada teori 'salah sasaran'. Kejaksaan menduga kuat bahwa target utama kelompok penembak adalah seorang pria yang dikenal dengan julukan 'El Dario', figur yang dikenal memicu kekerasan di pesisir Oaxaca. El Dario sendiri terluka dalam insiden tersebut dan meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit. Pihak kejaksaan menduga Huesca terjebak dalam baku tembak antar kelompok kriminal lokal saat ia sedang menunggu untuk mengantar El Dario.
Meski pihak berwenang mengklaim para pelaku telah 'teridentifikasi sepenuhnya', mereka belum merilis nama-nama tersangka atau memastikan apakah aktivitas jurnalistik Huesca turut menjadi motif pembunuhan. Sementara itu, laporan media lokal simpang siur mengenai lokasi kejadian; beberapa sumber menyebut Huesca ditembak di rumahnya dan seorang wanita turut terluka dalam peristiwa itu.
Organisasi hak asasi manusia Article 19 dengan tegas mengutuk pembunuhan ini. Melalui platform X, mereka mendesak agar kejaksaan memprioritaskan penyelidikan pada latar belakang pekerjaan jurnalistik korban. Walikota San Miguel Tlacamama, Antonio Olmedo Mendoza, juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Huesca.
Analisis Dampak: Kejadian ini mempertegas posisi Meksiko sebagai salah satu negara paling berbahaya bagi jurnalis. Data Reporters Without Borders mencatat lebih dari 150 pekerja media tewas di sana sejak 1994. Bagi masyarakat umum, kasus ini menunjukkan bahwa bekerja sebagai jurnalis di wilayah konflik kartel berarti mempertaruhkan nyawa, bahkan saat sedang menjalani pekerjaan sampingan sekalipun. Ketidakjelasan hukum dan tingginya impunitas membuat para pewarta hidup dalam bayang-bayang teror.