Washington, DC – Sebuah pernyataan mengejutkan muncul dari kubu Republik di Amerika Serikat. Senator Roger Marshall secara terbuka mengakui hak Iran untuk membela diri dalam wawancara dengan CNN. Hal ini dianggap sebagai sinyal perubahan sikap di Washington, terutama setelah Presiden Donald Trump menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Teheran.
Analis politik menilai pernyataan ini menunjukkan pergeseran peta politik. Beberapa politisi Republik yang sebelumnya dikenal hawkish kini mulai melunak. Namun, di sisi lain, kelompok pro-Israel dan politisi garis keras mulai bergerak untuk menggagalkan kesepakatan ini. Mereka siap bentrok dengan Gedung Putih yang ingin segera mengakhiri perang.
Matthew Duss dari Center for International Policy menilai Trump memiliki kemampuan untuk menjual kesepakatan ini ke basis pendukungnya. "Jika suatu hari dia bilang perang dengan Iran berjalan baik, lalu besoknya dia bilang kita menandatangani perjanjian damai, basisnya akan ikut saja," ujarnya. Namun, Duss menegaskan kelompok pro-Israel tetap 'sangat kesal' dengan MoU ini.
Isi perjanjian baru bocor ke publik pada Rabu lalu, berisi 14 poin. Meski dirilis bertahap, kritik dari kelompok elang perang tetap deras. Menariknya, Senator Lindsey Graham yang dikenal sebagai pendukung perang justru menyebut MoU ini 'akan bermanfaat'. "Tidak ada salahnya mencoba," tulisnya di media sosial.
Perbedaan mencolok terlihat dibandingkan dengan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) era Obama. MoU kali ini lebih toleran karena bertujuan mengakhiri perang yang sedang berlangsung, bukan mencegah perang di masa depan. AS dan Israel mulai membom Iran pada 28 Februari tanpa provokasi langsung. Jajak pendapat menunjukkan publik AS lelah dengan konflik dan mendukung jalur diplomasi.