MENTERI ISRAEL: SUNGAI LITANI BATAS BARU, LEBANON JADI SASARAN! - Berita Dunia
← Kembali

MENTERI ISRAEL: SUNGAI LITANI BATAS BARU, LEBANON JADI SASARAN!

Foto Berita

Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich. Ia secara terbuka menyerukan agar negaranya mencaplok wilayah Lebanon selatan, bahkan menyatakan Sungai Litani harus menjadi 'perbatasan baru Israel'. Desakan ini muncul di tengah gempuran militer Israel yang makin intensif ke Lebanon, yang telah menghancurkan jembatan, rumah warga, dan berbagai infrastruktur vital.

Smotrich, dalam wawancara radio pada Senin lalu, menegaskan bahwa serangan Israel di Lebanon "harus diakhiri dengan realitas yang sama sekali berbeda," termasuk "perubahan perbatasan Israel." Sungai Litani sendiri adalah jalur air penting yang membelah Lebanon selatan, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel.

Serangan Israel meningkat sejak awal Maret, menyusul rentetan roket yang diluncurkan oleh Hezbollah ke wilayah Israel. PBB bahkan menyatakan bahwa serangan terhadap bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil ini berpotensi menjadi kejahatan perang.

Dampaknya bagi warga sipil Lebanon sungguh memprihatinkan. Lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka, jumlah yang setara dengan satu dari lima penduduk Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, setidaknya 1.039 orang tewas, termasuk 118 anak-anak, dan 2.876 lainnya luka-luka sejak awal Maret.

Militer Israel juga dilaporkan makin masuk ke wilayah Lebanon lewat operasi darat, yang mereka klaim bertujuan memberantas pejuang Hezbollah. Namun, laporan dari Al Jazeera menyebut, penghancuran infrastruktur seperti jembatan, stasiun bahan bakar, dan pusat kesehatan di Lebanon selatan mengindikasikan strategi Israel untuk mengisolasi dan bahkan 'mengosongkan' penduduk di wilayah tersebut. Pejabat Lebanon khawatir ini adalah persiapan untuk operasi darat yang lebih besar.

Desakan aneksasi oleh seorang menteri senior Israel ini jelas sangat provokatif dan berpotensi memperparah konflik, memicu gejolak baru di kawasan, serta semakin jauh dari resolusi damai.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook