BELFAST, IRELAND UTARA — Warga Belfast, termasuk keluarga Ukraina dengan bayi usia dua bulan, harus merasakan pahitnya kekerasan yang meletup pada Selasa malam (15/8). Mereka terpaksa mengungsi saat rumah-rumah di beberapa titik kota dibakar massa. Insiden ini merupakan buntut dari aksi penusukan pada Senin malam sebelumnya.
Salah satu korban, Jamie Corrie, harus menyaksikan rumah yang ia tinggali selama 13 tahun ludes terbakar. Ia mengatakan api sudah membesar sebelum petugas pemadam tiba. Pemicunya, mobil milik warga asing di sebelah rumahnya dibakar lebih dulu. 'Melihat rumah sendiri terbakar, itu perasaan yang tidak akan pernah hilang,' ujarnya pilu kepada BBC News NI.
Kekacauan ini juga meneror Yura (19), seorang pengungsi Ukraina. Ia melarikan diri lewat pintu belakang bersama anjingnya saat pintu depannya mulai terbakar. 'Saya beruntung teman saya tinggal dekat sini,' katanya. Sementara itu, Anselme Shima, warga asal Afrika yang sudah 13 tahun tinggal di Belfast, mengaku ketakutan dan tidak tahu cara melindungi anak-anaknya.
Dampaknya meluas ke sektor kesehatan. Biji Jose, perawat senior dari Forum Perawat India Irlandia Utara, mengungkapkan rekan-rekannya dari komunitas India sangat cemas dan mempertimbangkan hengkang dari Belfast. 'Wajah mereka penuh kekhawatiran, tidak bisa lagi bebas jalan di jalan seperti dulu,' katanya.
Analisis: Kerusuhan ini membuka luka lama soal ketegangan antar-etnis di Irlandia Utara. Selain kerugian materiil, dampak psikologis dan rasa tidak aman mengancam tenaga kerja asing yang vital bagi sektor publik seperti kesehatan. Jika tidak diredam, aksi ini bisa memicu eksodus tenaga medis profesional dan memperburuk pelayanan publik.