Krisis pangan di Gaza semakin parah. Warga sipil, terutama anak-anak, kini kesulitan mendapatkan makanan bergizi akibat terganggunya pasokan barang komersial dan pemotongan bantuan kemanusiaan.
Huda Abu Leila (30), warga Gaza City, mengaku terpaksa menyajikan hanya teh dan roti untuk sarapan kelima putrinya yang berusia 18 bulan hingga 10 tahun. Kondisi ini terjadi setelah Israel memberlakukan pembatasan masuknya barang ke Gaza pada 14 Oktober lalu.
Pembatasan tersebut sempat memicu kelangkaan bahan pokok seperti telur dan susu di pasar, sementara harga melonjak drastis. Meski Israel mengumumkan pengiriman komersial akan kembali berjalan bertahap pada 19 Oktober, dampaknya masih terasa.
Masalah bertambah berat karena Badan Pangan Dunia (WFP) juga memangkas bantuan. Jumlah penerima bantuan turun dari 1,6 juta jiwa pada September menjadi 1,1 juta jiwa pada Oktober. Jatah makanan juga dipotong menjadi setengah, dan jumlah makanan panas harian berkurang dari 250.000 menjadi 150.000 porsi.
WFP mencatat sekitar 1,4 juta orang di Gaza atau dua pertiga populasi menghadapi kerawanan pangan akut. Famine atau kelaparan ekstrem bahkan telah dideklarasikan di Gaza City pada Agustus 2025. Situasi ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat yang sudah tiga tahun hidup dalam tekanan perang.